Saturday, September 15, 2007

Jalan-Jalan

Jogja: Unforgetable Moment

6 Sept 2007: Nikmatnya naik Kereta Api kelas Ekonomi
“Ayo, Dek, buruan! Tar kita telat loh!”, ujar Mas Insaf. “Iya…Iya, tunggu.”, sahutku. Kami pun bergegas ke stasiun. Benar saja, 5 menit setelah duduk di dalam gerbong, kereta api mulai berjalan dan mempercepat larinya meninggalkan kota Jember. Aku menghela nafas lega, huuh….. Akhirnya jadi juga kami bepergian berdua. Kami ke Jogja untuk menghadiri wisuda Bang Kastro, sepupu Mas Insaf.

Kami sengaja naik kereta ekonomi Logawa dengan beberapa maksud. Pertama, tentu saja lebih irit. Kedua, kami ingin menikmati perjalanan dengan angkutan transportasi massal yang bisa membuat kami akrab dengan kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia (ciiee…). Ketiga, kami telah berjanji kepada Mama untuk bertemu Mbak Ridha di Stasiun Nganjuk, dan menyampaikan barang titipan Mama.

Di tengah perjalanan, ada seorang ibu yang umurnya 60-an dan anaknya duduk berhadapan dengan kami. Tiba-tiba saja ibu itu berkata padaku,” Itu kakaknya ya? Kok mirip banget?”. “Bukan, bu. Dia ini pacar saya.”, jawabku. “Wah..kata orang kalo mirip gitu jodoh. Semoga itu benar ya?!”, kata ibu itu lagi. Aku tersenyum dan mengamini dalam hati.
Kereta api mampir di Stasiun Nganjuk pukul 14.30. Aku melihatnya. Yaa..kakakku yang tengah hamil 7 bulan beserta suaminya. Aku memberikan barang titipan mama, barter dengan dua bungkus nasi (he..he..he..). Kami sempat bercakap-cakap beberapa menit. Aku senang melihat kakakku sehat-sehat saja. Aah..sebentar lagi aku akan punya ponakan, pikirku.
Kereta meniupkan peluitnya pertanda akan berangkat. Kami pun kembali ke tempat duduk dan segera makan. Tentu saja kami sangat lapar karena mulai dari Jember kami belum makan. Setelah makan, apa? Penyakit lama kembali menyerang. Rasa kantuk mulai menyerang. Kami tak sanggup bertahan maka menyerah saja. Maka..tidurlah kami berdua dengan damai dan aman sentosa…..zzzZZzzZZ…
Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja pukul 17.00 tepat. Kami menunggu jemputan Bang Kastro, sepupu Mas Insaf yang akan wisuda. Tingginya sekitar 175 cm dan lebih berat 20 kilo-an dari Mas Insaf.

Petualangan pun dimulai…Here we go!
Kami rehat sebentar di Kos Bang Kastro. Setelah itu, kami pergi ke rumah Mbak Pipit (pacar Bang Kastro) supaya aku bisa mandi, dan beristirahat disana. Kami berkenalan dan ngobrol dengan orangtua Mbak Pipit. Orangtua Mbak Pipit adalah orang Jogja tulen, maka tidak heran bila perangai mereka sangat halus.
Pukul 20.00 kami menjemput Bibi dan Kila (orangtua Bang Kastro) dan mengantarkan ke kos Bang Kastro. Lalu aku kembali ke rumah Mbak Pipit dan beristirahat.

7 September 2007: Sesaknya Pasar Beringharjo
Keesokan harinya, Bibi ingin ditemani berbelanja di Pasar Beringharjo. Maka, kami (Bibi, Kila, Mas Insaf,aku) naik taksi ke Pasar Beringharjo. Sesampai disana, Bibi membeli beberapa pasang baju untuk anak-anak dan ponakannya yang ada di Medan. Bibi mengaku merasa senang berbelanja disana karena harganya sangat murah. “Ayo Nakku, kam pilihkan yang mana yang bagus untuk Bibi!”, pinta Bibi suatu waktu. “Iya Bi, rasanya campuran warna merah dan coklat ini cantik, cocok untuk Bibi.”, kataku. Maka Bibi pun membelinya. Tak lupa aku membeli baju untuk mama dan bapak di Rumah Banyuwangi.
Setelah puas berbelanja, kami makan bakso di pinggiran jalan Malioboro. Setelah itu, kami pulang ke Kos Bang Kastro. Bibi dan Kila pun beristirahat.

Pintarnya Jogja
Setelah itu, aku dan Mas Insaf berjalan-jalan ke Pameran buku di JEC. Nampaknya pameran ini serupa dengan pameran yang pernah ada di Jember, hanya sedikit lebih lengkap disini. Di JEC, kami hanya membeli buku karya Umberto Eco. Lalu, kami ke Social Agency, karena disana lebih lengkap dan harga diskon. Kami membeli beberapa buku disana. Saat itulah aku menyadari betapa kurangnya fasilitas yang dimiliki Jember, terutama akses mahasiswa terhadap buku. Kapan dan bagaimana mahasiswa Jember bisa lebih update akan perkembangan yang terjadi bila buku yang dibutuhkan jauh dari jangkauan?

8 September 2007: Hari yang ditunggu-tunggu..
Inilah salah satu alasan kami ke Jogja. Pukul 12.00 setelah wisuda usai, kami memberi ucapan selamat ke Bang Kastro lalu berfoto bersama. Bang Kastro terlihat bahagia. Tentu saja, setelah 6 tahun duduk di bangku kuliah STT Nas, hari ini adalah yang paling ditunggu-tunggu. Gelar Sarjana Teknik telah diraihnya. Aku membayangkan Mas Insaf yang memakai toga itu, pastilah aku orang yang paling berbahagia di dunia ini.
Untuk merayakan ini semua, kami (Bibi, Kila, Mas Insaf, Bang Kastro, Bang Roy, Bang Sutra, Oza, Mbak Pipit, aku) makan siang di depot ayam goreng Suharti. Ehhm….yummy.,..enak! 3 ekor ayam kampong utuh, 2 tumis kangkung, 2 bakul nasi putih, minuman segar segera tersedia. Tak perlu menunggu komando, kami segera melahap habis makanan itu semua. “nah..Tyas jangan kaget ya, orang Karo emang begini ini, makannya banyak.”, ujar Abang Sutra. Aku hanya tersenyum. Waah…sama dong, pikirku. Setelah itu, kami beristirahat di kos Bang Kastro.


9 September 2007: Borobudur in love
Keesokan harinya, pukul 09.30 kami berwisata ke Candi Borobudur. Kami naik mobil Mbak Pipit. Mobil tua itu berisi 8 orang. Sopir, Bang Kastro dan Bang Roy di depan, Mbak Pipit dan Bibi di tengah, serta Kila, Mas Insaf dan aku di belakang. Di tengah perjalanan, kami membeli salak pondoh. Sebelum tiba di Candi Borobudur, kami melewati Candi Mendut. Kami sampai di Candi Borobudur pukul 11.00. Acara pertama: makan.
Setelah itu kami membeli tiket masuk dan menyewa 3 buah payung karena teriknya matahari benar-benar serasa di atas ubun-ubun. Setelah kami masuk ke lokasi, kami harus berjalan kurang lebih sejauh 1,5 km. Waw… keren banget relief-relief ini, pikirku. Dan letak candi ini yang begitu stategis diapit gunung dan lembah membuat candi ini terlihat semakin menjulang. Tak heran bila ini disebut keajaiban dunia. Benar-benar keajaiban.
Aku benar-benar menikmati wisata ini karena ini adalah kali pertama aku ke sini. Dan ternyata ini juga pertama kalinya Mas Insaf ke sini, kami pun memanfaatkan moment ini untuk berfoto-foto sebanyak dan seunik mungkin. Kapan lagi, pikirku.
Setelah puas berkeliling, kami pun pulang. Sebenarnya, kami berencana untuk melanjutkan wisata ke Parangtritis, tapi karena Bibi sudah cape dan mengeluh kakinya sakit, maka kami pun pulang ke kos Bang Kastro. Ternyata sewaktu perjalanan, kami semua tertidur saking capenya. Kasian sopirnya ga bisa tidur….(hehe..)

10 September 2007: Bersantai bersama Keluarga
Ini adalah hari terakhir kami bisa berkumpul, karena esok pagi Bibi, Kila dan Bang Roy akan kembali ke Medan. Sore pukul 15.00, aku dan Mas Insaf ingin ke Perpustakaan UGM, cari inspirasi skripsiku, tapi ternyata perpustakaannya udah tutup. Kami langsung meluncur ke Shoping, Karena matahari sudah mulai malas bersinar, kami pun pulang. Sebelum pulang, kami teringat Bibi ingin dibelikan bakso. Singgahlah kami di bakso Pak Narto, dan kami masing-masing melahap semangkuk bakso. Ternyata Mas Insaf gak bo’ong, baksonya benar-benar enak.
Kami sampai di kos pukul 18.00 dengan membawa 3 bungkus bakso. Bibi dan Kila pun segera memakan baksonya, “Ehhm….enak ya, baksonya, Nakku!”, ujar Bibi sambil mengunyah pentol bakso. Aku pun mengangguk.

Bukit Pathuk: Kerlap-kerlip Lampu Jogja
Sebelum pulang ke rumah Mbak Pipit, aku merengek ingin ke Bukit Pathuk karena menurut Mbak Pipit dan Ibunya, tempat itu indah sekali. Pukul 20.30 kami berempat (Bang Kastro, Mbak Pipit, Mas Insaf, aku) pergi ke dataran tinggi tersebut. Kira-kira 30 menit, kami sampai di sebuah kedai minum dimana bisa melihat kerlap-kerlip lampu Jogja dari kejauhan. Sungguh indah dan dinginnya luar biasa. Bahkan segelas kopi susu panas pun tak mampu mengusir dingin ini.
Setelah kopi susu kami teguk hingga ke dasarnya, kami pun pulang. Malam itu, aku dan Mbak Pipit sengaja berlama-lama ngobrol hingga pukul 00.00, karena ini adalah malam terakhir aku bermalam di kamarnya.

11 September 2007: Bibi kembali ke Medan
Aku dan Mbak Pipit anter Bibi dan Kila hingga di Bandara. Kami sempat bersalam-salaman dan cipika-cipiki. Semoga kita lekas bertemu lagi, Bibi. Semoga kita benar-benar bisa menjadi sebuah keluarga, suatu hari kelak. Amin.
Siangnya, aku dan Mas Insaf ke Perpustakaan FISIP UGM untuk cari-cari literatur untuk menunjang skripsi Mas Insaf dan aku. Alhasil, dengan uang yang nipis, kami hanya bisa fotokopi 5 buku, itu pun dengan format panjang. Kari sekaken a’ee….!!
Setelah itu, kami makan siang, kembali ke kos Bang Kastro, packing, dan kota selanjutnya, Semarang, siap menanti kami. Mbak Pipit dan Bang Kastro mengantarkan kami hingga terminal Jombor. Kami naik bis Nusantara. Yooo…….Semarang, kami dataanggg!!!!

******

Sore itu langit mulai gelap, matahari sudah kembali ke peraduannya di ufuk Barat ketika kami tiba di terminal Banyumanik Semarang. Aku melirik jam tanganku, tanggal 11 pukul 17.30.WIB. Ini kali ketiga aku menginjakkan kaki di Ibu Kota Jawa Tengah ini. Pertama, ketika menghadiri pesta pernikahan abangku yang menyunting gadis asal kota ini tahun 2002 lalu. Kedua, tahun 2006 untuk menemui abangku yang menginap di rumah mertuanya. Dia baru saja pulang dari Amerika Serikat untuk menyelesaikan program master di University of Utah. Waktu itu, Aku, dia, istrinya (mbak) dan anak mereka Oza bermaksud pulang bersama-sama ke Kuta Kepar, desa terpencil di Sumatera bagian Utara. Di desa itulah kami lahir dan menghabiskan masa kecil yang bahagia. Kini aku kembali datang ke kota ini. Bedanya, aku tak lagi datang sendiri tapi bersama Tyas, gadis yang jadi pacarku selama setahun belakangan ini.
Meskipun sudah kali ketiga, aku masih saja tak ingat alamat bahkan nomor telepon rumah orangtua kakak iparku yang hendak kami tuju. Aku mengingat-ingat dan mencoba melihat di HP kalau-kalau alamat dan nomor telepon itu aku simpan. Namun, sial, HP-ku mati karena kehabisan daya. Tak lama kemudian HP Tyas berdering, dari abang,Tyas memintaku untuk mengangkatnya.
“Kalian sudah sampai?”
“sudah baru aja”
“langsung saja naik taksi, bilang ke Sampangan lewat Papandayan ke Perumahan Bukit Unggul nanti berhenti aja di Jasmin Catering. Dari situ jalan ke rumah, ingat kan kamu sudah pernah ke sini to?”
“Iya”.
Aku lalu menyampaikan alamat itu ke Tyas agar membantuku untuk mengingat-ingatnya. Sekitar limabelas menit kemudian kami sudah tiba di alamat yang dituju, abang menyambut di depan pintu dengan senyum.
“Eh, kalian nggak nyasar ternyata”, katanya. Lalu memegang pundak Tyas dan berkata “kok mau aja ikut bersusah-susah”. Tyas hanya tersenyum dan kami pun duduk di ruang tamu. Barangkali yang ia maksud dengan bersusah-susah adalah soal tempat tidur. Rumah itu tak cukup besar untuk menampung kami berdua karena tepat tidur hanya empat. Padahal penghuninya berjumlah delapan orang dewasa dan dua anak kecil, Oza dan adiknya yang baru lahir dua minggu yang lalu. Sebenarnya jumlah kamar itu sudah pas jika tanpa kami berdua dan abang serta keluarganya.
Tanpa ngobrol lebih banyak kami segera mandi dan dan makan.

*****

Waktu masih menunjukkan pukul 06.30 wib, aku sudah terjaga dibangunkan abang. Tadi malam aku tidur di ruang tamu di atas lantai dengan menggelar karpet. Toni, adik bungsu kakak iparku tidur di atas sofa di sebelahku. Tanpa mencucui muka aku langsung ke teras dan membaca Koran. Tyas datang dan menyuguhkan teh lalu mengajakku keluar jalan-jalan sekalian membeli oleh-oleh. Pukul 08.00 wib, abang membeli Pecel dan kami sarapan. Tyas dan mbak sudah lebih dulu sarapan bubur. Pecelnya puedees luar biasa tapi karena enak, aku nggak peduli. Jam sembilan pas kami berangkat jalan-jalan dengan menggunakan angkutan umum. Tempat pertama yang jadi tujuan adalah kota lama Semarang yang sudah sering kami saksikan beritanya di televisi.
Rasanya kondisi bangunan tua di tempat tersebut tak jauh berbeda dengan bangunan tua di kota lainnya, sama-sama tak terurus. Kondisi sungai di sekitarnya tersebut juga sami mawon dengan keadaan sungai di kota-kota besar di seluruh Indonesia, tercemar dan mengeluarkan aroma yang tak sedap. Namun, dibandingkan dengan kota tua di Jakarta, Surabaya atau Jogjakarta, keadaan kota tua di Semarang relatif lebih baik dari yang terburuk. Di kota-kota lain bangunan tua banyak yang sudah (di)runtuh(kan) dan diganti dengan bangunan baru yang lebih megah sedangkan di sini bangunan itu masih ada meskipun sebagian besar dibiarkan saja tak terurus. Barangkali karena pertimbangan itu juga, Mira Lesmana dan Riri Riza memilih Semarang sebagai lokasi Syuting film Soe Hok Gie beberapa waktu silam.

Setelah menyusuri kota lama, kami melanjutkan perjalanan ke Simpang Lima. Karena sudah sama-sama lapar kami sepakat untuk mencari warung untuk makan. Dalam perjalanan perutku sempat mules-mules, nampaknya gara-gara kebanyakan sambal pecel tadi pagi. Rasa sakit itu memaksa kami untuk singgah ke mall terdekat, Ciputra Mall, aku bergegas ke toilet. Setelah makan, perutku kembali bergejolak dan lagi-lagi harus masuk ke mall terdekat, Ramayana. Setelah dari toilet kami sempat berjalan-jalan dan makan es krim di Mc Donald, membeli roti lalu keluar dengan maksud melanjutkan jalan-jalan. Tujuan berikutnya adalah objek wisata yang juga sangat terkenal di Semarang yaitu bangunan tua yang bernama Lawang Sewu. Aku lupa kapan tepatnya bangunan ini dibangun. Pemandu yang mengantar kami beserta serombongan pelajar dari Ungaran sempat bercerita, namun aku nggak terlalu konsen sama penjelasannya. Tempat ini dulunya adalah stasiun kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, lalu sempat menjadi markas Kodam Diponegoro, kantor Dinas Perhubungan dan Kosong sampai sekarang. Konon, kata si penjaga gedung tersebut, tempat ini bukan tempat sembarangan, angker sehingga sering dijadikan tempat uji nyali. Ada salah satu ruangan kecil yang pada masa Jaman pemerintahan Belanda merupakan ruang tendon air, oleh Jepang dijadikan tempat latihan memenggal kepala manusia. Ada juga ruang penyiksaan tahanan di lantai atas. Tak heran, tempat ini sering dijadikan tempat mencari wangsit oleh orang-orang yang barangkali percaya pada “penunggu” gedung ini. Kami masih bisa melihat sisa-sisa lilin persembahan para peziarah itu.

Tak jauh dari Lawang Sewu ada pusat oleh-oleh. Kami berjalan kaki menuju tempat itu. Lagi-lagi di jalan perutku mules dan terpaksa mencari tempat terdekat yaitu Rumah Sakit bersalin untuk numpang toilet. Aku benar-benar merasa dikerjai. Langit kembali gelap, kami bergegas pulang. Sesampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib. Saatnya mandi, makan, dan pulang ke Jember.

Baca Selengkapnya..

Tuesday, August 21, 2007

Dari Yamato Sampai Ke Aceh

“Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun djuga, aku memerintahkan kepadamu untuk mendjaga bendera kita dengan njawamu. Ini tidak boleh djatuh ketangan musuh” (Bung Karno dalam Cindy Adams).

Insiden penurunan bendera merah putih oleh sekelompok orang tak dikenal di Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, dan Aceh Timur beberapa hari menjelang peringatan HUT kemerdekaan RI ke 62 lalu menimbulkan keprihatinan sejumlah pihak. Ketua DPR, Agung Laksono misalnya, meminta rakyat Aceh Menghormati simbol RI. Ia berujar, “jadikan Hari Kemerdekaan sebagai momentum yang baik untuk menghormati bendera Merah Putih dan Indonesia Raya. Kita bukan menyakralkan, tapi menghormati simbol negara” (Kompas, 14/8). Sementara itu, Panglima TNI bereaksi lebih keras karena menganggap insiden itu sebagai pelecehan terhadap kedaulatan RI.

Insiden itu mengingatkan penulis pada insiden bendera yang terjadi di Hotel Yamato Surabaya (Sekarang Hotel Majapahit) pada tanggal 19 September 1945 dimana sejumlah pemuda revolusioner di Surabaya merobek warna biru bendera Belanda sehingga yang tersisa tinggal Merah Putih, warna kebanggaan Republik. Peristiwa ini berawal ketika tentara Belanda yang tergabung dalam tentara Sekutu menaikkan bendera Belanda berwarna merah-putih-biru di atas puncak Hotel Yamato. Pengibaran bendera ini membuat warga Surabaya marah. Ribuan warga yang sebagian besar pemuda segera berkumpul di depan hotel dan akhirnya terjadilah insiden itu.

Insiden itu mengajarkan satu hal, bahwa jika memang kedaulatan negara dan terlebih-lebih kedaulatan manusia di dalamnya telah dilecehkan, rakyat ternyata bergerak dengan sendirinya tanpa perintah penguasa. Namun, tentu kedua insiden tersebut tak dapat disamakan karena selain situasi dan kondisinya berbeda, pelaku insiden penurunan bendera di Aceh juga tidak jelas siapa pelakunya. Pemerintah nampaknya berhati-hati menanggapi hal ini demi menjaga iklim damai yang tengah diupayakan di Aceh.

Penulis pada dasarnya setuju bahwa Bendera, Lagu kebangsaan dan sederet atribut negara lainnya merupakan simbol yang harus dihormati, tapi seperti kata Agung Laksono, bukan disakralkan. Karena, adalah terlalu naïf apabila kedaulatan dan kehormatan negara hanya diukur dari penghormatan terhadap simbol belaka. Pemaknaan seperti itu benar-benar kering dan sempit.

Soekarno termasuk orang yang sangat gemar terhadap mistisme sebuah simbol. Maka tanggal 17 dipilih sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia karena konon katanya angka itu suci, bukan buatan manusia karena orang Islam sembahyang 17 raka’at, tapi berkali-kali juga ia mengingatkan “warisi apinya bukan abunya”. Pesannya seperti di awal tulisan di atas agaknya perlu di reinterpretasi karena konteks insiden penurunan bendera merah putih yang sekarang sudah berbeda dengan keadaan waktu itu. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan makna yang lebih relevan. Pertanyaannya, apakah sekelompok orang yang menurunkan bendera itu adalah musuh? Atau yang lebih eksistensial, apakah benar insiden penurunan bendera itu benar-benar telah melecehkan kedaulatan kita dan kehormatan kita sebagai sebuah bangsa?

Penulis jadi ragu. Jangan-jangan kita masih sulit menghindari sakralisasi terhadap bendera Merah Putih seperti yang diucapkan Agung Laksono. Akibatnya bisa fatal, kita lebih menghormati kain sederhana itu daripada jutaan manusia Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terlilit kemiskinan. Gejalanya sudah jelas. Reaksi kita terhadap bencana Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo, tidak secepat reaksi kita terhadap insiden penurunan bendera di Aceh. Ini bukan hal baru. Dulu kita juga sangat emosional terhadap sekelompok penari Cakalele di Maluku, Ambon dan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua tanpa melihat masalahnya secara lebih komprehensif.

Penulis tidak berspekulasi bahwa manusia Indonesia lebih penting daripada simbol negara Indonesia. Karena ini sama saja dengan mempertanyakan duluan mana telur atau Ayam. Keduanya sama penting dan justru karena itu perlakuan terhadap bendera harus tidak lebih istimewa daripada perlakuan terhadap manusia Indonesia. Karena jika tidak demikian, maka meminjam istilah Bung Karno, kita lebih mewarisi abunya ketimbang apinya.

Sebenarnya kalau mau ditilik lebih jauh, kita sudah lama hidup dalam kungkungan simbolisme seperti itu. Yang saya maksud dengan simbolisme merujuk kepada sakralisasi terhadap simbol-simbol tertentu entah itu agama atau negara. Padahal, simbolisme benar-benar telah merenggut kesadaran kita terhadap realitas sosial yang terjadi. Barangkali kita tak terlalu ambil pusing dengan dengan perbaikan sekolah rusak yang terancam gagal karena pemerintah pusat dan daerah saling lempar tanggung jawab. Tapi kita bahkan pemerintah dapat memaafkan anggota KPU yang korupsi, tapi di sisi lain kita beringas ketika mendengar penghinaan terhadap simbol agama atau simbol negara.

Perayaan HUT kemerdekaan juga penuh simbolisme. Setiap warga dihimbau untuk mengibarkan bendera di depan rumahnya. Militer di Papua mengerahkan warga untuk mengikuti upacara bendera. Polisi juga tidak segan-segan menegur bahkan memberi tilang kepada pemilik kendaraan bermotor yang tidak memakai bendera merah putih.

Pada tanggal 16 Agustus lalu, penulis sempat jalan-jalan ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Jember untuk melihat aktivitas masyarakat di sana dalam menyambut HUT kemerdekaan RI. Ternyata tidak ada pesta, bendera dan upacara. Mereka justru sedang resah mendengar isu pemindahan lokasi TPA tersebut karena hal itu berarti mengancam mata pencaharian mereka. Seorang petani yang menggarap sawahnya yang tak jauh dari lokasi TPA tersebut juga bertutur, “ya kalau orang kecil seperti saya tiap hari ya begini ini, yo mbajak, yo ngarit” . Apakah orang-orang yang nyaris terlupakan ini tidak memiliki rasa hormat terhadap kemerdekaan, atau simbol kedaulatan bangsa? Atau jangan-jangan merekalah yang sedang merayakan kemerdekaan dengan cara yang sebenarnya, kerja keras untuk menyambung hidup.

Adalah kekeliruan besar jika defenisi kedaulatan dan kehormatan bangsa dimonopoli oleh negara atau aparatur negara seperti TNI dan POLRI. Hasilnya sudah kita lihat selama 32 tahun dan masih belum lekang hingga kini, yaitu terjadinya penyeragaman makna bahwa kedaulatan adalah bendera, upacara, lagu kebangsaan dan simbol-simbol lainnya. Sudah saatnya pemaknaan itu dibiarkan terbuka dan memiliki banyak pintu sehingga masing-masing orang tidak kehilangan haknya sebagai individu yang merdeka untuk memaknai kedaulatan negaranya. Dus, insiden penurunan bendera bisa jadi maknanya pelecehan kedaulatan bagi pemerintah terutama TNI, tapi bagi rakyat, bisa jadi hal itu tak lebih dari sekedar protes atas ketidakadilan selama bertahun-tahun. Sehingga tak perlu ditanggapi berlebihan apalagi langsung di tumpas. Kapan kita bisa jadi pendengar yang baik? Kapan kita bisa jadi bangsa yang dewasa? Merdeka!

Baca Selengkapnya..

Sunday, August 19, 2007

Lika-Liku di Perantauan

Saya tinggal di Jember, sebuah kota kecil di sebelah timur pulau Jawa. Mayoritas penduduknya adalah imigran dari daerah sekitarnya yang didatangkan Belanda ketika mereka membuka perkebunan di wilayah tersebut. Menurut catatan Andreas Harsono, Jember mulai tumbuh sebagai daerah urban pada 1850-an ketika George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. Birnie mendatangkan pekerja dari daerah sekitar Blitar dan Pulau Madura. Jember digolongkan sebagai salah satu daerah pendhalungan. Sosiolog Harry Yuswadi mendefenisikan kebudayaan di daerah ini sebagai (1) sebuah percampuran budaya Jawa dan Madura dan (2) masyarakat madura yang lahir di wilayah Jawa dan beradaptasi dengan budaya Jawa.


Saat ini keberadaan etnis Madura dan Jawa masih mendominasi di Kabupaten terbesar ketiga di Jawa Timur ini. Di sebelah Utara didiami oleh mayoritas etnis Madura, sedangkan di sebelah Selatan mayoritas adalah etnis Jawa. Maka tak heran apabila suatu saat kita menemui orang Jember yang fasih berbahasa Jawa dan juga Madura. Selain dua etnis dominan di atas, ada juga etnis-etnis lain seperti Tionghoa dan suku lainnya yang tersebar di berbagai area.

Sejak bulan Agustus 2003, saya tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Jember, universitas negeri terbesar dan tertua di daerah ini. Universitas Jember berasal dari universitas swasta bernama Universitas Tawang Alun yang berdiri sejak 4 Nopember 1957. Pada tanggal 5 Januari 1963, Universitas Tawang Alun dinegerikan bersama dengan Universitas Brawijaya Malang. Meskipun demikian, Universitas Jember masih dianggap cabang dari Universitas Brawijaya. Universitas Jember baru benar-benar berdiri dengan status negeri pada tanggal 5 Januari 1964.

Sejak lulus dari bangku sekolah menengah di Yogyakarta, saya sudah bertekad bahwa nanti di bangku kuliah hendak aktif dalam kegiatan mahasiswa. Waktu itu yang ada di dalam benak saya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa. Namun setelah kuliah ternyata pilihan saya berubah. Saya memilih bergabung dengan organisasi ekstra mahasiswa bernama Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI). Saya memilih organisasi ini karena pada waktu itu tertarik dengan foto bung besar yang dipajang dalam pamflet mereka. Seiring perkembangan waktu, saya juga mulai mengetahui organisasi lain seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan belakangan, saya kenal Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI). Setelah mengetahui keberadaan organisasi yang lain, saya pikir GmnI merupakan pilihan paling rasional buat saya karena saya bergama Katholik. PMKRI, sekalipun saya kenal belakangan, tapi tidak menarik minat saya.

Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI) didirikan pada tanggal 22 maret 1954 dan merupakan fusi dari tiga organisasi mahasiswa (ormawa) yang berbeda yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis, berpusat di Jogjakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka, berpusat di Surabaya, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia, berpusat di Jakarta. Ketiga ormawa itu memiliki ideologi yang sama yaitu, Marhaenisme ajaran Bung Karno.

Kalau kita membaca biografi Bung Karno karya Cindy Adams, Marhaenisme berasal dari Marhaen, nama seorang petani di daerah Bandung Selatan yang ditemui sokarno pada suatu hari di antara tahun 1922-1923. Melalui sebuah percakapan ringan di areal sawah milik pak Marhaen, Soekarno mengetahui bahwa petani itu memiliki sawah, pacul dan rumahnya sendiri, namun ia tetap miskin. Kondisi ini sama seperti yang dialami oleh sebagian besar orang Indonesia. Penyebabnya tak lain adalah sistem kolonialisme yang berakar dari sistem kapitalisme di Indonesia. Mendapat ilham dari percakapan itu, Bung Karno kemudian menamakan rakyat Indonesia yang bernasib malang dengan sebutan Marhaen. Untuk merubah keadaan kaum Marhen menjadi lebih baik dibutuhkan sebuah sistem yang tidak membiarkan eksploitasi seorang manusia atau bangsa terhadap manusia atau bangsa lain (Sosio-demokrasi). Untuk itu dibutuhkan sebuah negara sebagai alat perjuangan dan perumahan bangsa yang mengagungkan nilai-nilai humanisme dan anti kekerasan (sosio-nasionalisme) karena didasarkan atas kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pertengahan tahun 2005 lalu, saya dan seorang teman seangkatan juga membentuk kelompok diskusi yang kami beri nama Lingkar belajar Indonesia, disingkat LiBido. Kami rajin mengadakan diskusi dari warung kopi sampai kampus dengan mengundang pembicara tamu. Tema diskusi tidak terencana dengan baik, mengalir begitu saja sesuai selera kami. Beberapa minggu setelah Pram meninggal misalnya, kami mengadakan bedah buku hasil wawancara dengan nominator hadiah nobel itu yang berjudul “Saya terbakar amarah sendirian”. Christanto P Rahardjo, seorang dosen “édan” yang didaulat menjadi salah satu pembicara menganalisa Pram dari kacamata pandangan eksistensialisme. Sepengetahuan saya, belum pernah ada pembicara lain di Jember yang melihatnya dengan cara demikian. Tak lama setelah itu, kami mengadakan diskusi kedua. Kami membedah buku kontroversial karya John Perkins berjudul “Confessions of an Economic Hit Man”. Waktu Itu, buku tersebut belum ada di Jember dan barangkali juga masih dalam proses penerjemahan di Indonesia. Saya sendiri mendapatkan buku itu dari kakak saya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di negeri paman Sam tahun 2005 lalu. Kami mengundang Dr. Sarwedi, ahli ekonomi pembangunan yang juga dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jember dan Sunardi Purwaatmoko, dosen saya di Jurusan Hubungan Internasional sebagai pembicara.

Ada yang menarik sekaligus agak konyol di balik acara diskusi itu. LiBido sebenarnya hanya “dikemudikan” oleh dua orang, saya dan teman saya. Karena kami hanyalah kelompok studi yang “tak jelas” dan statusnya “liar”, maka untuk menggunakan fasilitas kampus, kami mengalami sedikit kendala. Misalnya untuk menggunakan ruangan, kami memerlukan surat dari lembaga resmi dan legal seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tentu saja kami tak punya karena kami bukan pejabat HMJ maupun BEM. Akhirnya, jalan satu-satunya adalah kami meminta izin dari ketua Jurusan, sehingga kami jadi memiliki kekuatan untuk mengajukan permohonan bantuan ke Fakultas, entah itu ruangan, pembuatan spanduk atau bantuan kesekretariatan. Dengan demikian, acara itu diadakan atas nama Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Agak ribet memang, bahkan sebelum hari- H, saya terpaksa terbaring di Rumah Sakit selama tiga hari akibat serangan Tifus. Saya kelelahan. Keruwetan itu sebenarnya berawal dari kejadian pada tahun 2004 lalu. Sekelompok teman-teman progresif angkatan 2000 dan 2004 yang tergabung dalam Komunitas Depan Koperasi (KDK) mengadakan pameran budaya Jepang di Kampus. Karena tidak meminta “restu” BEM dan HMJ, acara tersebut diancam dibubarkan. Pihak Dekanat dan Jurusan yang tadinya mendukung acara tersebut, tidak berdaya menghadapi serangan sekelompok mahasiswa arogan yang tergabung dalam BEM dan HMJ. Alasannya, KDK adalah lembaha “liar”. Terlepas dari “serangan” itu, acara tersebut sebenarnya sangat berhasil dalam menarik antusiasme mahasiswa. Sejak saat itulah, julukan “liar” menjadi populer di Fisip, termasuk juga LiBido.

Belajar dari pengalaman terkapar di rumah sakit itu, kami kemudian berusaha untuk menggandeng teman-teman yang lain jika ingin mengadakan sebuah acara. Untuk menghindari kejenuhan, kami berpikir untuk mengadakan variasi kegiatan.

Ilham itu datang sekitar awal bulan Agustus 2006 setelah membaca kolom Christanto P Rahardjo di harian Radar Jember yang berjudul “Jazz”. Ia mengkritik setengah bercanda;

“ Mungkin Unej Satu-satunya universitas negeri di Jawa yang belum pernah mempertunjukkan musik Jazz.”

“Di kampus Unej memang Jazz “belum bicara” apalagi bersemboyan “make your life meaningful on UNEJ with Smooth Jazz everyday”.

Saat itu juga saya putuskan pagelaran musik Jazz akan menjadi even LiBido selanjutnya. Tapi masalah lain segera menghadang. Kami masih asing dengan musik Jazz dan juga sama sekali tak berpengalaman dalam menyelenggarakan sebuah pertunjukan musik. Kesulitas lain adalah sponsor. Mereka menganggap Jazz kurang menjual. Saya memutuskan untuk mendatangi kolumnis itu secara langsung dan “menantangnya” untuk mengadakan acara Jazz di kampus. Ia menerima tantangan saya dan mulailah kami menggarap persiapan acara itu pada bulan itu juga. Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadakan pada pertengahan Agustus tidak menyurutkan niat kami (saya dan teman saya) untuk mewujudkan ide tersebut. Saya mulai berselancar di dunia mencari informasi dan sampailah kepada sebuah alamat. Jalan Medokan Ayu C No. 26 Surabaya (sering disingkat C-26), sebuah markas penggemar Jazz di Surabaya. Saya mengirimkan E-mail dan dua minggu berikutnya mereka menghubungi teman saya. Kami terus berkomunikasi dan berdiskusi hingga akhirnya pada tanggal 25 November 2006, musik Jazz pertama kalinya terdengar di Universitas Jember. Sambutan teman-teman mahasiswa di luar dugaan kami. Mungkin karena pertunjukan gratis, saya tidak tahu, tapi yang jelas mereka berduyun-duyun memenuhi lapangan parkir Student Advisory Centre (SAC). Seorang pengunjung sempat berkelakar kepada salah seorang teman yang menjadi panitia

“Aku seneng banget mbak, pertama kalinya bisa nonton Jazz gratis, yang main B-42 lagi, biasanya mereka main di Hotel Garden Palace di Surabaya, mahal. Wah kapan lagi nih mbak?”

Semua rasa capek terbayar tuntas rasanya setelah acara tersebut selesai. Tak banyak yang tahu, untuk mewujudkan acara yang tampak sederhana itu, kami membutuhkan waktu berbulan-bulan dan cukup menguras stamina dan biaya. Kami bergerak berdasarkan idealisme, tak ingin cari untung tapi juga tak ingin rugi. Satu-satunya yang bisa kami janjikan hanya pengalaman, tak lebih. Tujuh orang teman bersedia bergabung membantu sehingga total panitia acara tersebut menjadi sembilan orang.
Sebenarnya pada pertengahan tahun 2006 itu, saya dan beberapa teman juga sedang sibuk untuk mendirikan sebuah lembaga penelitian. Lembaga itu dimaksudkan sebagai tempat kami belajar dan mengabdi kepada masyarakat kelak setelah lulus kuliah. Tiga orang penggagasnya masih tercatat sebagai pengurus DPC GmnI, termasuk saya. Sedangkan tiga orang lainnya adalah teman kami dari Jurusan Sejarah. Saya adalah mahasiswa termuda sekaligus satu-satunya mahasiswa non jurusan Sejarah. Lembaga itu kami beri nama Center of Local Economics and Politics Studies (CoLEPS). Kami rutin menulis artikel dan makalah untuk didiskusikan setiap dua minggu sekali. Dari diskusi itu kemudian tercetus keinginan untuk mengadakan sebuah seminar sekaligus Launching buku pada tanggal 25 Januari 2007. Tema diskusi itu adalah tentang Land reform di Indonesia, sebuah ide lama yang di peti es-kan oleh orde baru karena dicap sebagai program PKI. Tema ini semakin relevan karena pada tanggal 28 September 2006, pemerintah melalui ketua Badan Pertanahan Nasional (BPN), Joyo Winoto mengumumkan rencana membagi-bagikan tanah.
Rencananya, akan ada redistribusi lahan eks HPH/HTI seluas 9 juta ha diseluruh Indonesia, dengan komposisi 60% untuk masyarakat dan 40% untuk investor dalam dan luar negeri. Juga redistribusi lahan seluas 8, 15 juta ha, yang sekitar 2,5 juta ha diperuntukkan khusus bagi perkebunan sawit dan tebu. Sisanya termasuk didalamnya 1,5 juta ha lahan yang dikelola oleh Perhutani di Pulau Jawa, akan dibagikan kepada para
Land Reform sebenarnya bukanlah sebuah kebijakan baru di Indonesia. Pada masa pemerintahan Soekarno, pemerintah sudah menyadari bahwa diperlukan sebuah Reforma Agraria untuk mewujudkan cita-cita dari kemerdekaan nasional demi kesejahteraan, keadilan, kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut maka dibuatlah Undang-Undang Pokok Agraria 1960.

Namun dalam kenyataannya, Reforma Agraria sebagai salah satu kewajiban pemerintah belum pernah secara sungguh-sungguh dijalankan sesuai dengan amanat Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 dan UUD 1945 pasal 33. Alih-alih menjalankan UUPA, pemerintah justru menerbitkan berbagai undang-undang yang sifatnya sektoral seperti UU No. 7/2004 tentang Sumber daya Air, UU No. 18/2004 tentang Perkebunan, Undang-Undang Pertambangan dan undang-undang lainnya yang semangatnya tidak sesuai dengan UUPA.

Sampai saat ini saya sering merasa belum melakukan apa-apa. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Padahal, masih banyak yang belum dan ingin saya kerjakan. Kadang saya lupa bahwa setiap jejak yang kita tinggalkan adalah sejarah dan keabadian. Saya tiba-tiba ingat sepenggal puisi Goenawan Mohamad, “Sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi”. Ah, hidup!






Baca Selengkapnya..