Bising. Sesak. Macet. Itulah tiga kata pertama yang muncul di kepalaku ketika baru saja kaki ini mendarat di Stasiun Gambir, Jakarta. Tidak terlalu capek meskipun ternyata aku sudah menempuh perjalanan sekitar 16jam dari Jember-Jakarta, karena kereta api yang aku tumpangi berkelas eksekutif (untuk itu, aku harus membobol tabungan sebesar 290ribu).
Sewaktu berangkat, aku dibarengi oleh 3 orang teman laki-laki: Mas Yusuf (seorang staf mahasiswa Perkantas Jember), Milhan (Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen di Fak. Psikologi Ubaya), dan Graal (Ketua Permaker Malang). Kami berempat hendak menghadiri Pelatihan Menulis Opini Perkantas-Kompas. Kabarnya sih, se-Indonesia hanya 15 orang yang diundang. Pembicaranya Bapak Irwan Julianto (Wakil Desk Opini Kompas). So, i’m lucky..!!
Kami sampai di Gambir pukul 07.00, dijemput oleh seorang kakak dari Perkantas, diantarnyalah kami ke kantor Perkantas di kawasan Pintu Air. Rehat sejenak, mandi, minum teh, sarapan bubur ayam, hhhmmmm.....yuummmyyy....
Siangnya kami baru diantar ke tempat pelatihan yaitu OMF, di daerah Cempaka Putih JakPus. Dari luarnya si biasa aja, tapi dalamnya keren banget! Terasa bukan di Jakarta. Get it? Banyak pepohonan rindang yang menyejukkan udara dan meneduhkan mata. Aku pun masih bisa mendengar kicauan burung yang sepertinya mereka bernyanyi syukur karena ternyata masih ada ranting pohon dan dahan untuk bersarang dan meletakkan telur-telurnya. Kami pun bergegas ke kamar masing-masing. Kamarku ada di lantai 3, satu kamar dengan Kak Elis (Panitia, staf Perkantas) dan Kak Grace (peserta, staf literatur Perkantas). Nyaman sekali kasurnya...
Baru saja ku rebahkan tubuhku, kak Elis masuk dan berkata bahwa sudah waktunya makan siang. Aku harus segera makan karena bila telat resikonya makanan akan diberesi sehingga kita tidak mendapatkan apa-apa. Oke..aku ganti baju dan turun ke lantai 1.
Saat makan itulah, aku mulai berkenalan dengan para peserta yang lain. Ada Bang Gurgur Manurung (belakangan kami semua sepakat memanggilnya Bang Ben, karena wajah dan perawakannya yang mirip sekali dengan Benyamin Sueb. Maap ya, Bang..), Bang Reza dari Makasar, kak Julius (aku pernah bertemu dengannya 2 tahun yang lalu saat acara pelatihan di Kaliurang Jogjakarta), Kak Theo Harefa, Bang Paul, Pak Peter Jacobs, dan kakak-kakak yang lain. Setelah makan, kami disilahkan msuk ke suatu ruangan, acara akan segera dimulai. Ruangannya tidak terlalu luas. Kursi dan meja ditata seperti konferensi, memutar, sehingga masing-masing orang bisa melihat satu sama lain tanpa terhalangi. Peserta yang ikut sekitar 15 orang. Dibukalah acara itu dengan doa.
Haah?? Ini sudah dibuka? Ya ampun, semula aku pikir ini adalah acara khusus mahasiswa Perkantas se-Indonesia, kok mahasiswanya cuma 3 orang (aku, Milhan, Graal)? Waduuh,,benar-benar yang ada disini semuanya sudah senior, kira-kira umur mereka akhir 20-an dan di atas 30-an. Hhhmmm....moga aja dengan stok pengetahuan yang aku miliki, gak malu-maluin deh jadinya, hehe....
Okay, kita mulai acaranya...
Saturday, November 01, 2008
A Long….Long Journey (Part 1)
I’ve been there, A!
”Kenapa si, Yas, harus ada kematian??”
Aku terhenyak mendengar pertanyaan itu. Bagaimana tidak, baru saja bangun tidur dan ketika hendak ke kamar mandi, aku mampir ke kamar seorang kawan kostku (sebutlah A), dia langsung menyerudukku dengan pertanyaan seperti itu.
Aku diam saja, ingin mendengar apa kata-kata selanjutnya.
”Iya, kenapa Tuhan itu seolah-olah punya senjata yang bernama kematian? Dan aku yang tak pernah berpikir mengenai surga-neraka, jadi takut...takut tak bisa bertemu kekasih, teman2, kalau-kalau kematian itu datang menjemput tiba-tiba. Aku juga sudah jarang bersembahyang, kamu tau kan!!”, ucapannya menyembur bagai lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Ya..kawanku yang satu ini memang unik, aneh. Kadang A bersikap sok dewasa dengan menasihati kawanku yang lain dengan sejuta kemungkinan yang ia kemukakan, kadang dia bertingkah seperti anak kecil yang menyaru sebagai seorang superhero dan memukul-mukulkan guling ke kawanku yang lain yang ia tetapkan sebagai monster (musuh si superhero), kadang A menangis tersedu karena mengaku kangen dengan sang kekasih di belahan lintang dan bujur dunia yang lain. Nah, apa lagi yang kali ini terjadi padanya? (Selanjutnya, A (kawanku), T (aku))
A=”Seakan-akan ketika aku tidak bersembahyang, si Tuhan berkata ”Hei..aku punya kematian, kalau kamu tidak menuruti aku, kamu akan masuk neraka atau kamu tidak akan bisa bertemu kekasihmu dan teman-temanmu.”
T=”Memang kenapa kalau kamu mulai sembahyang lagi?” A, aku sadar aku manusia lemah, oleh karena itu aku membutuhkan kekuatan yang lebih besar, lebih agung dari aku yang kepadanya aku bisa bersandar.”
A=”Iya, aku juga sepakat. Tapi, kan kalau aku sembahyang lagi, berarti aku kalah dong sama Tuhan?” (sambil menunjukkan mimik memberengut)
T=”Kenapa kamu mikirnya seperti itu, A? Kamu tau gak, ada yang bilang pengetahuan tertinggi seseorang itu adalah berupa keyakinan? ”
A=”Masa? Siapa yang berkata seperti itu? Aku sepertinya pernah dengar sebelumnya.” (ia berkata seolah-olah seperti terkagetkan atau tersadarkan?)
T=”Udahlah, kamu mikir aja dulu. Aku mau mandi.. ”
I’ve been there, A. I know you can solve it...with your own way!
Wednesday, October 29, 2008
Perempuan dan Sekitarnya
Ada satu keanehan yang terjadi di ruangan ini. Sekian lama tempat ini terselimuti oleh pola patriarki. Hari ini, akhirnya pola itu mulai runtuh, begitu juga pola patriarki yang telah lama aku pegang teguh. Aroma kekuatan perempuan mulai tercium.
Pengakuan itulah yang aku baca di buku curhat organisasi kampus yang aku ikuti, ditulis oleh seorang kawan laki-laki, saat kami tengah mengadakan rapat organisasi. Aku terhenyak membacanya, aku sangka dia adalah seorang yang ‘moderat’ atau ‘liberal’. Ternyata aku salah besar, dengan jelas ia mengakui patriarkinya. Ooh..kasian sekali, rupanya ia masih terkubur dalam kubangan feodalisme milik jaman penjajahan yang pada akhirnya berdampak pada cara berpikirnya, pikirku dalam hati.
Pengakuan itu muncul karena masalah sepele. Dalam rapat tersebut, aku dan beberapa kawan perempuan mengajukan keberatan terhadap mereka yang merokok—yang mayoritas adalah kaum laki-laki. Kami (aku dan beberapa kawan perempuan) beranggapan bahwa kami juga memiliki hak untuk menghirup udara segar. Mereka pun bersikeras untuk mempertahankan argumennya bahwa merokok juga adalah hak mereka sebebas-bebasnya. Setelah melalui ‘pergulatan’ yang panjang, akhirnya kami semua sepakat bahwa selama rapat haram hukumnya bagi moncong mulut yang mengepulkan asap rokok. Deal!!
“Aku ga suka di dalam organisasi kita ini ada pola seperti itu!! Udah ga relevan lagi untuk zaman sekarang. Sebagai seorang mahasiswa, harusnya mereka mampu berpikir ‘lebih’ dari itu. Iya kan??”, kataku pada seorang kawan perempuan di saat senggang. “That’s right, sister! Kalo ga ada makhluk yang namanya perempuan, kamu ga bakal nongol disini, tau!!”, sahutnya seolah-olah ia sedang berbicara pada seorang laki-laki.
Aku tak ingat persis kapan terjadinya perdebatan itu, yang pasti kejadian itu berlangsung beberapa hari menjelang hari Kartini—di mana diperingati sebagai hari bangkitnya kekuatan yang dimiliki oleh seorang hawa. Kasian sekali si Kartini, hanyalah tinggal peringatan saja tanggal 21 April itu karena ternyata pola patriarki masih banyak terjadi di masyarakat Indonesia.
Dalam karyanya A Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak dapat menjadi pemimpin. Rupanya sistem nilai dan budaya yang ada kini turut berkontribusi terhadap langgengnya pola seperti ini sehingga melekat dari generasi ke generasi, yang makin mensubordinatkan perempuan di bawah superioritas laki-laki.
Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah dan perlu diajari, dibimbing, dan diamankan. Semua itu menjadi pembenaran perempuan tidak bisa berperan di ruang publik, diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya, dan berkonsentrasi di wilayah domestik.
Peristiwa malam itu masih membayangiku tatkala aku hampir terlelap di kasurku. Aku teringat, jauh sebelum Rousseau sebenarnya sudah ada seorang filsuf kelahiran Macedonia yang hidup pada masa 384-322 SM yang berbicara tentang keberadaan perempuan yaitu Aristoteles.
Ia percaya bahwa kaum perempuan adalah “pria yang belum lengkap”. Perempuan, dalam hal reproduksi, hanya bersikap pasif dan reseptif. Bagaimana bisa filsuf sepintar itu salah dalam mempersepsikan korelasi antara laki-laki dan perempuan?! Hal itu disebabkan, dalam menjalani kehidupannya, Aristoteles kurang memiliki pengalaman dan interaksi yang bermakna dengan perempuan. Aaa…itulah akibatnya, bila segala sesuatunya yang memegang kendali adalah kaum laki-laki, rutukku dalam hati. Aku pun terlelap dengan pikiran yang masih terus berputar.
Sebenarnya gerakan perempuan telah muncul mulai tahun 1787 yang ditandai dengan terbitnya Pencerahan Concordet di Perancis. Pada masa itu, perempuan sangat aktif dalam pertempuran melawan rezim feodal yang ada. Salah seorang aktivis perempuan yang gigih dalam membela hak asasi kaumnya yaitu Olympe de Gouges tahun 1791. tapi, malang benar nasibnya, kepalanya dipenggal tahun 1793 dan seluruh aktivitas politik bagi kaum perempuan dilarang. Pada abad 19 barulah terjadi gelombang feminisme di seluruh Eropa dan menjalar hingga ke seluruh penjuru dunia hingga detik ini.
Memang pada waktu tertentu, perempuan memiliki lebih banyak keterbatasan dibanding laki-laki. Misalnya saja, dalam jangka satu bulan perempuan harus ‘rehat’ beberapa hari sebab haid. Selain itu, sistem sosial yang mensyaratkan tabunya bagi seorang perempuan untuk keluyuran melewati pukul 9 atau 10 malam. Ora ilok (tidak pantas, red), kata orang Jawa! Tapi, janganlah kiranya itu nantinya dijadikan alasan oleh kaum laki-laki untuk mendiskreditkan perempuan.
Lalu, apa yang bisa perempuan lakukan supaya mereka tidak dianggap sebagai subordinat saja? Unjuk gigi dong!! Alias berkarya, berkarya, dan terus berkarya!! Perempuan bisa menjadi presiden, politisi, bergiat di DPR, partai, LSM, menjadi dosen, rektor, peneliti, supir taksi, supir busway, montir, manajer, wartawan, membuka lapangan kerja sendiri, de el el. Romo Magnis-Suseno, dalam sebuah tulisannya di media cetak pernah berkata bahwa filsafat laki-laki cenderung bersifat logosentris, phalocentris sehingga perempuan perlu berfilsafat untuk menyelamatkan keberatsebelahan pemikiran laki-laki filsuf.
"Perempuan berfilsafat dari posisi ketertindasan sehingga menjadi lebih peka terhadap realitas yang lain dibandingkan laki-laki. Laki-laki berfilsafat dari kedudukannya yang dominan sehingga kalau pun ada pendekatan-pendekatan yang khas perempuan, tetapi karena pengalaman kolektif mereka berbeda, mereka menjadi kurang peka," katanya.
Tulisan ini hanyalah ‘alarm’ supaya sebagai makhluk yang waras, kita saling menghargai apapun jenis kelamin yang kita miliki dan dengan jenis kelamin apa kita berinteraksi. Bagi kaum laki-laki, jangan sekali-kali berani beranggapan bahwa kau lebih hebat dari perempuan. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi. Bagaimana pun kuatnya seorang laki-laki pasti membutuhkan seorang perempuan. Yah….untuk sekedar reminder saja laki-laki itu dilahirkan dari liang vagina, bukan lewat penis!! Iya kan?! That’s right, sister!!