Kamis, 16 Okt 08
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Ah, sebentar lagi aku akan dijemput, lebih baik aku menunggu di teras, pikirku. Benar saja, tak lama setelah itu Mas Elia rekan sepelayananku menelpon dan berkata bahwa dia sudah sampai di satu blok sebelum blok rumah kostku. Sore itu, kami akan ke Lumajang apa pun yang terjadi. Aku berkata demikian karena sore itu hujan deras tengah mengguyur Jember. Aku selalu meyakinkan diri, ah..ini kan baru hujan air, masa gitu aja mundur, hehe..
Mas Elia memberiku dua pilihan: naik motor atau bis. Aku pilih naik motor saja karena lebih hemat dan tentu saja cepat. Kami berdua memakai mantel dan berangkatlah kami. Dingin tidak terlalu kurasakan karena di balik mantel ini masih ada jaket yang melekat, tapi ternyata yang lebih perih terasa adalah kerikil-kerikil halus dari jalan raya beraspal yang terpental mengenai kakiku yang hanya beralaskan sandal. Sekali waktu kulirik spedometer sepeda motor yang membawaku ini, pandom bergetar di antata angka 70-80 km/jam. Tapi aku tak merasa kuatir, aku percaya saja pada mas Elia, hehe...dia kan pembalap. Yang paling pasti, aku percaya kepada Tuhan yang menugaskan aku berangkat dan pelayanan di Lumajang.
Aku lebih menikmati naik motor karena lebih bebas menelanjangi alam yang dilewati. Hamparan sawah dan pepohonan terbentang di sisi kanan kiri jalan. Yang paling menyeramkan adalah ketika kami menyusuri sepanjang sungai di sisi kiri daerah Jatiroto. Entah kenapa petang itu sepi sekali, hanya bebrapa bis antar kota dan truk-truk saja sekali waktu melintas dengan kecepatan tinggi. Ternyata keadaan sepi itu dimanfaatkan oleh Mas Elia untuk memacu kendaraan lebih cepat. Nah, di daerah Jatiroto itu, ada beberapa rel lori tebu yang melintang di jalan raya yang membuat jalan sedikit tidak rata. Hehehe...dasar pembalap, hal itu tidak membuat mas Elia untuk menurunkan kecepatan motornya. Alhasil, ketika melewati rel lori itu, aku merasakan sepersekian detik bokongku melayang sejenak alias tidak menyentuh jok dan kemudian kembali mendarat di jok dengan selamat. Aku tertawa geli dalam hati, hihihi... sempat kubayangkan andai kecepatan melayang bokongku yang tidak sama dengan kecepatan motor. Yaah...seperti efek yang ada di film Matrix itulah!! Jadi, kecepatan bokongku lebih lambat sehingga fase melayangku lebih lama dan terlihat seperti slow motion, tapi kecepatan motor Mas Elia bergerak tetap. Apa yang akan terjadi?? Hehe....tidak usah dibayangkan, karena itu pasti akan menyakitkan dan akan merusak aset berhargaku?!!^-^
Okay,,kami sampai di Rumah Persekutuan pukul 17.25. Tempat persekutuan siswa-siswa Kristen Lumajang disediakan oleh sebuah keluarga pasangan dokter gigi. Namanya Pak Kus Harianto dan Tante Sari. Setelah membasuh kaki yang kotor, aku masuh ke ruangan ber-AC itu. Ruangannya tidak cukup luas, tapi cukup untuk menampung 25 orang. Tak lama kemudian Tante Sari muncul. Perawakannya tak seberapa tinggi, kira-kira 157an cm, rambutnya berwarna keperakan tak sampai menyentuh bahu. ”Haii...sudah lama tidak ketemu ya, Tyas.”, sapanya sambil menjabat tanganku dan mengecup pipi kanan kiriku. Dia bertanya tentang kuliahku, rencana masa depanku, tentang anak perempuannya. Perempuan ini halus sekali saat berujar, pikirku. Jauh sekali dengan aku, hehehe...
Tante Sari tak jarang memanggil salah satu siswa dengan sebutan ’sayang’. Aiih..aiih...benar-benar laiknya seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. ”Mbak Tyas kapan nginap disini? Mumpung masih ada di Jember kan? Nanti tidur sama Dek Dea kan bisa to?”, tanyanya padaku. Aku hanya mengiyakan saja. Perempuan ini meskipun sudah berumur, tapi tetap saja bekas-bekas kecantikan masa mudanya masih nampak jelas. Ia bertanya apakah aku sudah ada rencana untuk menikah. Dan aku menjawab belum dan itu mungkin baru terjadi 5 tahun lagi. Ia tersenyum dan berkata bahwa ia dulu menikah saat usianya 27 tahun. Masih banyak lagi yang kami obrolkan, sering ia menyelipkan nasihat-nasihat di sela-sela pembicaraan.
Sayang sekali pembicaran ini harus terhenti karena acara persekutuan akan dimulai. Setelah menyanyikan beberapa buah lagu, kami berdoa bersama-sama untuk memulai acara ini. Setelah itu, barulah waktuku untuk menyampaikan bahasan mengenai ’kepemimpinan’ tiba.
”Oke, adik-adik.. apa sih arti pemimpin atau kepemimpinan menurut kalian?”
Sunday, October 19, 2008
Lumajang dan Tante Sari
Monday, September 01, 2008
Perempuan Cantik itu Mamaku
Pagi tadi aku bertemu mamaku, seorang perempuan setengah baya yang dua puluh satu tahun yang lalu telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku. Aku bertemu dengannya di stasiun Jember. Dia akan pergi ke Madiun, kota asalnya, untuk ziarah ke makam kakek nenekku dan bertemu dengan tante omku di sana.
Aku melangkah memasuki bangunan stasiun itu, agak asing bagiku, mengingat sudah dua bulan lebih aku tidak pulang ke Banyuwangi—kota terujung sebelah timur Pulau Jawa. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya kereta Sritanjung jurusan Surabaya-Jogjakarta merayapi rel di stasiun Jember ini..
Aku bangkit berdiri dan mengamati gerbong demi gerbong, lorong pintu demi lorong pintu, jendela demi jendela untuk menemukan perempuan yang sangat mencintaiku tanpa syarat itu. Akhirnya ku lihat dia, mencoba keluar dari desakan penumpang di sekitarnya pada gerbong nomor 3. Mamaku, berkaos kuning dengan celana denim di bawah lutut dan tas coklat tersampir di lengan kirinya. Sama sekali jauh dari kesan glamor ataupun mewah. Rambut lurus dan tebalnya tidak sampai menyentuh bahu—membuatnya terlihat selalu segar dan muda walaupun bunga-bunga keriput mulai menjejak di wajahnya, menandakan umurnya yang beranjak mendekati pertengahan abad. Ia masih terlihat cantik. Jujur, aku ingin terlihat sepertinya ketika usiaku sama dengannya.
Ia turun dari gerbong, senyumnya mengembang..
Aku menyerahkan sebungkus nasi untuk sarapan di kereta nanti. Sebagai gantinya, ia menyerahkan sekantong kresek hitam besar padaku yang berisikan sekotak bihun dan keripik. Ooh...mamaku, betapa engkau telah rela bangun di subuh hari dan menyiapkan ini semua untukku. Dalam hati aku berpikir, bisakah dan pantaskah aku membalas kebaikanmu? Dan dengan apa kiranya aku bisa membalasnya? Seumur hidup aku yakin tak akan bisa ku tebus semuanya itu..
Kami sempat ngobrol, tentang keadaan bapakku dan adik laki-lakiku di rumah. Mamaku memang sangat terbiasa untuk bepergian sendirian. Ia adalah orang yang supel dan mudah akrab dengan siapa pun. Tak heran bila kawan-kawanku semasa SD selalu menanyakan mamaku ketika mereka bertemu denganku, dan mamaku adalah orang yang tak segan untuk menyapa kawanku terlebih dulu. Yaah...tak jarang mamaku ngobrol dengan kawanku yang penjaga toko atau sekedar bertemu di pasar. Mamaku jarang sekali lupa nama kawan-kawanku.
Tak sampai 15 menit kami berbincang. Walaupun begitu, aku menikmatinya. Sebelum ia kembali ke keretanya, ku raih dan ku cium punggung tangannya, lalu ku cium pipi kanan dan kirinya. ”Ati-ati ya, Ma..”, ujarku. Lalu naiklah ia ke balok besi yang akan membawanya ke Madiun itu. Ternyata ia masih berdiri di lorong pintu, ia berpesan, ”Skripsinya cepat dirampungkan ya?!”. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Lalu kereta pun perlahan bergetar dan pergi dengan membawa senyum perempuan terindah yang mampu menenangkan hatiku itu..mamaku.
Yaah...perempuan cantik itu adalah mamaku.
Monday, August 25, 2008
Perempuan, Vagina dan Menstruasi
My vagina is a shell, a round pink tender shell,
opening and closing, closing and opening.
My vagina is a flower, an eccentric tulip, the center acute and deep,
the scent delicate, the petals gentle but sturdy.
-The Vagina Monologues-
Di tiap penghujung bulan, kali ini bulan Agustus, seperti biasanya, aku merasakan siklus itu lagi, menstruasi. Yaah...dan seperti biasanya juga, rasa sakit ini menderaku, menyiksaku, dan membuatku tak punya pilihan lain selain menikmatinya.
Siang itu aku sedang ber-SMS dengan seorang kawan. Aku mengatakan bahwa aku sedang nyeri haid dan menceritakan padanya segala apa yang aku rasakan kala itu. Memang tak semua perempuan merasakan nyeri ketika sedang datang bulan. Dan mungkin aku tergolong yang lumayan parah sakitnya...
Kawanku itu bersimpati padaku dengan mengatakan, ”Kasihan kamu..Mending kamu istirahat aj sekarang.” Aku tersenyum melihat kata-kata itu terpampang di HP-ku. Lalu, dengan lincah tanganku menulis, ”Meski sakit, ya aku coba nikmati aja..justru si saat seperti ini aku merasa bangga menjadi seorang perempuan.” lalu sending message.
Menstruasi adalah sebuah siklus yang dialami perempuan paling tidak sebulan sekali. Memang, dalam beberapa kasus ada yang terlambat dan berubah-ubah periodenya.
Mengapa aku merasa bangga dan serasa ’lengkap’ ketika sedang meringkuk kesakitan akibat nyeri haid seperti itu?
Seorang kawanku mengatakan perempuan adalah kalender alam. Artinya, dalam waktu pertama menstruasi ke masa berikutnya itu adalah periode tertentu yang hanya tubuh perempuan dapat mengerti dan lakukan. Jadi, berbanggalah menjadi seorang perempuan! Kita memiliki struktur tubuh yang unik...
Beberapa waktu lalu, aku ngobrol dengan kawanku. Dia berkata bahwa bagian tubuh yang paling dia sukai dan banggakan adalah VAGINA. I was surprised with her words. Tapi ketika ia mengemukakan argumentasinya, aku setuju dengan apa yang ia katakan karena memang kami memiliki kesepakatan dan pendirian yang sama mengenai perempuan. Aku tersadar kemudian...saat itulah aku benar-benar mulai menyukai vaginaku dan bersahabat dengannya.
Kenapa vagina?
Jarang sekali orang membicarakan vagina, seolah-olah yang satu itu adalah sesuatu yang tabu dan bukan sesuatu yang pantas untuk dibicarakan. Seburuk itukah?
The Vagina Monologues karya Eve Ensler memberiku pencerahan tentang arti pentingnya vagina bagi seorang perempuan. Vagina bukan hanya sekedar pemuas laki-laki, dan terlebih-lebih ia bukanlah diperuntukkan bagi laki-laki. Vagina adalah bagian tubuh perempuan yang memiliki 8000 sel saraf. Percaya atau tidak, jumlah itu bahkan 2 kali lebih banyak daripada sel saraf penis laki-laki. Vagina is beautiful, unique, fabulous. Layaknya tata surya, vagina adalah pusat dari seluruh kehidupan planet-planet yang ada di sekitarnya. Perempuan tak akan hadir kalau tak ada vagina. Ia membuat perempuan mampu merayakan ke-perempuan-annya tersebut!
Nah, kembali ke persoalan menstruasi yang aku alami…
Seruan yang sering terlontar ketika mengomentari perempuan yang sedang mendapat menstruasi adalah ”dia sedang kotor”. Apa artinya? Darah menstruasi ini identik dengan kotor—kotoran, dan secara tidak langsung juga menandai perempuan sebagai kotor. Darah menstruasi adalah abjek yang seharusnya tidak boleh ditampilkan di ranah publik. Padahal sebagai seorang perempuan, akan sangat terasa nikmat dan melegakan ketika darah hangat itu keluar dari vagina, dan mengapa harus malu dan jijik atau bahkan merasa kotor? Bahkan Aquarini mengatakan ”darah itu mengalir hangat keluar dari tubuh saya, saya menikmatinya, saya tidak malu, saya tidak jijik karena darah itu adalah saya”.
Kadang aku berpikir, mengapa orang yang sedang terluka dan mengeluarkan darah—mengapa mereka tidak disebut kotor? ? Kan sama-sama darah...
Dan seandainya...sekali lagi seandainya laki-laki juga ditakdirkan untuk mendapat anugerah menstruasi, akankah ’cap kotor’ itu tetap tercipta??