Saturday, March 22, 2008

Andang C.Y: Menggugah Semangat Lewat Lirik Lagu

Dia bukan seorang seniman papan atas dengan karya yang terkenal seantero jagad. Dia juga bukan selebritis yang mampu menjual album hingga jutaan copy. Dia lahir dalam kesederhanaan, penampilan alakadarnya dan rendah hati. Uniknya, dari kesederhanaan itulah muncul ratusan karya lirik lagu daerah Using Banyuwangi. Namun, siapa sangka, namanya bahkan tidak dikenal oleh mayoritas masyarakat Banyuwangi, meskipun telinga mereka akrab dengan lagu-lagunya. Bukan jalan mulus yang dia tapaki ketika awal berkarier menjadi seorang seniman. Dia mengaku pernah merasakan derita di balik terali besi penjara akibat salah satu lagu yang diciptakan. Tapi ia tak berhenti di situ. Ratusan lagu daerah yang menghentak dan membangkitkan semangat masyarakat Banyuwangi tetap lahir dari ujung penanya.

Banyuwangi, sebuah kota kecil di ujung Timur pulau Jawa. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari tempat ini. Sama seperti kabupaten-kebupaten di sekitarnya—misalnya Jember—beberapa mall atau supermarket dan ruko-ruko berdiri di sana. Dan satu lagi yang hampir selalu ada di setiap kota yaitu baliho. Tak sedikit baliho menjulang di Banyuwangi yang menampilkan mulai iklan rokok, operator telepon seluler, hingga iklan layanan masyarakat yang dihiasi wajah pejabat setempat. Jalanan tampak nyaman untuk dilalui, jauh dari kesan kemacetan. Bahkan beberapa ruas jalan terlihat lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Banyuwangi juga kerap menjadi perlintasan orang dari berbagai daerah di pulau Jawa menuju ke pulau Bali yang keindahan alamnya terkenal ke seluruh dunia. Daerah ini sempat menjadi pusat perhatian secara nasional, saat dinamika politik yang sering berujung kepada konflik terbuka terjadi di sana, sebut saja kasus dukun santet pada tahun 1998 dan kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada tahun 2006 silam.

Jauh sebelumnya, yaitu pada tahun 1965, tak lama setelah peristiwa tragedi berdarah yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan Tigapuluh September (G30 S), Banyuwangi kembali jadi berita. Penyebabnya adalah sebuah lagu daerah tersebut diciptakan oleh seniman setempat bernama M.Arif yang berjudul ”Gendjer-Gendjer” dilarang diperdengarkan oleh pemerintah orde baru. Lagu itu dianggap menyebarkan dan identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Konon lagu tersebut terinspirasi keadaan rakyat yang melarat akibat pendudukan pasukan Jepang di Banyuwangi pada tahun 1942. Sebelum Jepang datang ke Banyuwangi, masyarakat Banyuwangi tak pernah makan sayur genjer (limnocharis flava) karena perekonomian yang maju. Tapi setelah Jepang datang dan menguras kekayaan alam Banyuwangi, rakyat menderita kelaparan dan terpaksa memakan sayur mayur tersebut. Sekitar tahun 1960-1965an, lagu tersebut pernah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani di RRI Jakarta dan tenar hingga beberapa waktu. Sekitar tahun 1965, lagu yang lirik aslinya memotret keadaan rakyat jelata tersebut diplesetkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab sehingga maknanya berubah menjadi pembantaian jendral-jendral oleh Gerwani dan PKI. Isi lirik itu adalah sebagai berikut:

Jendral Jendral nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli
Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Padahal, tadinya lirik lagu itu adalah seperti ini:

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake tholek teko-teko mbubuti genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih
Genjer-genjer esuk-esuk digowo neng pasar
Digedeng-gedeng diuntingi podo didasar
Emake jebeng tuku gowo welasan
Genjer-genjer saiki wis kudu diolah

Temenggungan: Awal Sebuah Cerita
Andang C.Y, seorang anak desa yang lahir di dusun kecil bernama Temenggungan Kabupaten Banyuwangi pada 19 September 1934. Di daerah ini berkembang beragam keseninan seperti Ketoprak, Wayang Orang, Ludruk, Angklung, Ande-Ande Lumut, Keroncong Mawar Merah dan Ramona. Tumbuh dan menjalani hidup di lingkungan seni, turut membentuk kepribadian Andang menjadi seorang seniman kampung. Pertemuan pertamanya dengan M.Arif adalah ketika ia masih kanak-kanak. Andang kecil melihat sosok M. Arif sebagai seorang seniman yang komplit. Baginya, M. Arif adalah seorang pejuang yang membela tanah air (pegang senjata), pencipta lagu (pegang pena), politikus yang berjuang di DPR pula (pegang palu).

Ketika beranjak dewasa, Andang pun bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi kesenian yang dianggap sebagai underbow PKI. Andang muda mulai tertarik mempelajari angklung dan gemar menulis syair-syair lagu. Lagu pertama yang dia ciptakan bersama M.F. Harianto berjudul “Perawan Sunthi” pada tahun 1967. Lagu itu bercerita tentang perempuan Banyuwangi yang telah matang dan akan memilih suami. Ternyata bukan apresiasi atau penghargaan yang pertama kali dia dapatkan ketika mencipta lagu perdananya, Andang muda malah ditahan 15 hari di Koramil setempat. Apa pasalnya? Ternyata lirik di dalam lagu tersebut yang menimbulkan kesalahpahaman. Ada bait di dalam lagu tersebut yang berbunyi “…kang disuwun wanci kinangan…1”. Lagu itu menceritakan tentang adat daerah Banyuwangi mengharuskan seorang perempuan yang akan mengakhiri masa lajangnya harus nginang daun sirih, sehingga dapat menghasilkan warna merah di bibirnya. Sama dengan Gendjer-gendjer, lagu itu dituduh beraroma PKI oleh Koramil setempat, sehingga Andang ”diamankan”.

Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu partai terbesar pada masa kepemimpinan Soekarno. Andang bertutur, ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (Setara Sekolah Dasar sekarang), PKI mulai masuk ke Banyuwangi termasuk di kelurahan Temenggungan. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Himpunan Sarjana Indonesia (HSI). PKI pandai menarik simpati dari masyarakat di sekitarnya, sehingga banyak simpatisan yang bergabung di bawah payungnya. Mereka merangkul seniman-seniman handal Banyuwangi dan memfasilitasi kesenian-kesenian rakyat kala itu. Salah satu lembaga kesenian yang terkenal adalah Lekra.

Lekra memiliki visi yaitu ‘seni untuk rakyat’. Tiga prinsip yang dipegang dalam Lekra adalah, “sama-sama kerja, sama-sama tidur, sama-sama makan”. Saat itu, Lekra terbagi menjadi beberapa bidang, yaitu musik, sastra, teater, dan seni adat. Teater dibawah Lekra hidup subur dengan karya yang berkualitas, seperti Bahtiar Siagan, Kembang Merapi, dan lain-lain, yang disarikan dari karya-karya sastrawan ternama seperti Pramoedya Ananta Toer. Di bidang musik, muncul kelompok seni bernama Sri Muda dibawah pimpinan Muhammad Arif, yang mengembangkan lagu-lagu dan tarian Banyuwangi diiringi oleh angklung. Tahun 1940-an itulah M. Arif menciptakan lagu “Gendjer-Gendjer” yang kemudian dilarang dinyanyikan selama pemerintahan orde baru karena dianggap identik dengan PKI.

Berbincang Dengan Sang Maestro
Muncul setitik keinginan untuk bertemu dengan Andang C.Y. Lalu saya meluncur ke Banyuwangi. Saya memilih naik kereta api Pandanwangi, murah dan santai. Ongkos yang harus saya bayar hanya Rp.4500,-. Sore itu, kereta api yang saya tumpangi terlihat penuh oleh penumpang. Mereka datang dari berbagai kelas sosial, berjubel di dalam balok besi yang penuh sesak. Ada pedagang rokok, penjual krupuk rambak kulit sapi dan tahu pong keliling, penjaja koran dan tabloid bekas. Ada pula tukang copet dan tukang jarah barang yang berwajah innocent sedang merepet pada tas korbannya. Segala macam karakter manusia ada di sana. Bau yang menusuk hidung pun bercampur aduk, dari bau keringat hingga bau sayur mayur dan ikan asin menambah penyadaran dalam diri bahwa memang seperti inilah rupa kereta api ekonomi. Tak masalah, saya senang memperhatikan mereka satu per satu dan kadang tersenyum sendiri bila ada hal-hal lucu terjadi. Namun itu semua tak mampu membuyarkan konsentrasi saya pada sebuah nama: Andang C.Y.

Tiga jam kemudian, tibalah saya di Kabupaten Banyuwangi. Saat itu saya dijemput oleh seorang kawan dari Banyuwangi, Putri namanya. Kami berdua langsung menuju kelurahan tempat kelahiran Andang, Temenggungan.

Kini Temenggungan jauh berbeda dengan keadaan 70 tahun yang lalu. Tempat ini bukan lagi menjadi pusat kesenian Banyuwangi. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk di Temenggungan, akhirnya saya dan Putri mendapat informasi bahwa Andang C.Y. kini bertempat tinggal di Jln. Musi no. 37 Kelurahan Penganjuran. Berangkatlah kami berdua ke sana. Tak sulit mencari rumahnya walaupun kami harus bertanya beberapa kali kepada tetangganya.

“Oohh..Rumah Pak Haji Andang, itu ada gang di depan Wartel, Mbak masuk aja, nanti ada gang kecil di sebelah kiri masuk, rumahnya bercat merah tepat di sebelah Mushola.”, ujar seorang pemuda sambil menunjukkan arah dengan jari telunjuknya. Kami pun meluncur menuju tempat yang ciri-cirinya tepat seperti pemuda tadi maksudkan. Rumahnya tak seberapa besar, jauh dari kesan mewah. Beberapa pot tanaman hias yang tertata apik di pekarangan rumahnya menambah kesan sejuk dan nyaman. Sore itu (19/02/2008), mushola di samping rumah Andang terlihat ramai, beberapa anak melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran, beberapa yang lain berlarian bersenda gurau di lorong depan mushola. Mereka tampak riang.

Segera saya dan Putri membuka panel pagarnya, dan beruluk salam sambil mengetuk pintu rumahnya. Seorang laki-laki tua membuka pintu, senyum tulus meyembul dari sudut bibirnya. “Mari…Silahkan masuk, Nak.”, ujarnya. Yah…Dialah Andang C.Y. Perawakannya tak seberapa tinggi, tak lebih dari 170 cm. Rambutnya telah memutih, namun itu tak mengurangi kharismanya walau usianya akan beranjak ke 74 tahun. Raut mukanya ramah, jauh dari kesan arogan. Dibalut kaos berwarna hijau dan celana panjang hitam, dia mempersilakashkan kami masuk ke ruang tamu, luasnya kira-kira 6X5 meter. Kami duduk di sebuah kursi sofa empuk berwarna coklat. Di sebelah kiri kursi sofa tersebut, terpampang sebuah foto keluarga. Ketika ia berjalan, saya memandangi caranya melangkahkan kaki yang agak terpincang-pincang, lalu bertanya, “Apakah Bapak sedang sakit? Kok cara berjalannya agak…” Belum sempat saya menyelesaikan kalimat, ia langsung menjelaskan bahwa sejak beberapa hari yang lalu penyakit rematik menyerangnya dan membuatnya agak susah berjalan.

Beberapa saat kemudian, kami bertiga terlibat dalam perbincangan yang santai, dan terkadang diselingi dengan guyonan dan senandung nyanyian daerah Using. Dia bercerita bahwa seingatnya, tak kurang dari 200 lagu daerah Using telah diciptakan sejak tahun 1960-an. Andang saat ini hanya tinggal berdua dengan istrinya, Hj. Suleha. Kelima anaknya telah berumahtangga dan tinggal di luar kota sehingga hanya sesekali saja mengunjunginya.

Menurutnya, lagu-lagu daerah Using Banyuwangi itu memiliki keunikan tersendiri yang tak dipunyai oleh daerah lain. Misalnya, jenis nada yang pentatonik, irama dan dinamika yang rancak, lirik lagu yang mengandung unsur perjuangan. Mayoritas lagu daerah Banyuwangi diiringi oleh alat musik kendang. Jadi, ketika seseorang mendengar iramanya, rasa-rasanya irama tersebut mendorong tangan dan kaki bahkan seluruh tubuh untuk bergerak dan bergoyang menikmati irama lagu tersebut. Andang menambahkan, lirik-lirik lagu daerah Banyuwangi sangat kental dengan aroma perjuangan melawan ketidakadilan dan penjajahan sejak awal penciptaannya. “Misalnya saja lagu Podho Nonton2. Lagu itu mempunyai lirik …pudhak sempal ing lelurung…yo pandhite para putra kejala ing kedungliwung…jalane jala sutra tampange tampang kencono3. Lirik lagu ini tampak ”halus”, tapi bila dicermati, lirik ini menggambarkan anak bangsa yang terkena politik devide et impera (politik adu domba). ”Anak bangsa banyak yang termakan omongan politik halus yang menghasut supaya kita saling berperang, dan penjajah mengiming-imingi kita dengan berbagai macam kekayaan,” ujar Andang. Selanjutnya, lirik itu berbunyi, ..lare angon, gumuk iku paculono, tandurono kacang lanjaran, sak unting oleh perawan4…! Artinya, mengajak masyarakat untuk berpikir jernih dan berjuang untuk melawan penjajah sehingga nantinya kita bisa menikmati hidup yang lebih layak. ”Sungguh indah lirik-lirik ini bila kita mampu menelaah arti yang lebih mendalam daripada kata-kata yang tersurat.”, kata Andang dengan telaten menjelaskan kepada saya dan Putri.

Agaknya memang benar apa yang dikatakan oleh Andang, meskipun dibungkus oleh nuansa cinta dan pengalaman hidup sehari-hari, lagu-lagu daerah Using Banyuwangi sebagian besar menggambarkan semangat perjuangan dan nilai-nilai dalam masyarakat yang harus terus dikobarkan. Konsistensi itu tetap dapat terjaga hingga pencipta baru bermunculan. Lihat saja lagu yang bertajuk “Layangan” karya Catur Arum, seorang pencipta lagu yang baru muncul tahun 2000-an. Konon, lagu “Layangan” bermakna sindiran terhadap perilaku kelompok elit politik saat maraknya isu pemilihan umum. Lagu yang sangat sederhana itu mengisahkan pemandangan di musim bermain layang-layang, bermacam-macam warna, ada merah, hijau, kuning, dan lain-lain. Warna-warna itu menggambarkan masyarakat yang terkotak-kotak oleh warna sehingga tak jarang perseturuan muncul saat suasana pemilihan umum. Penutup dalam lagu tersebut berbunyi demikian, pedhote layangan sing dadi paran, tapi ojo sampek pedhot seduluran…, artinya tidak menjadi masalah bila benang layang-layang itu suatu saat akan putus, tetapi janganlah sampai terjadi putusnya tali persaudaraan. Sungguh sebuah pesan yang mendalam.

Selama perbincangan berlangsung, tak jarang matanya menerawang jauh seperti berusaha mengenang masa silam. Ketika bercerita saat ia ditangkap dan dipenjara, roman mukanya redup dan matanya berkaca-kaca. Andang mengaku pernah ditangkap dan harus mendekam di balik terali besi selama 2 tahun setelah peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal yang dituduhkan didalangi oleh PKI, pada 30 September 1965. Dia pernah diculik dan diasingkan di Lowokwaru, Malang selama 19 bulan, lalu dipindah ke kamp konsentrasi wilayah Kalibaru-Banyuwangi, dan terakhir dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi hingga akhirnya memasuki tahap rehabilitasi tahun 1967. Semasa dalam tahanan, dia dibiarkan begitu saja tanpa pernah ada tindak lanjut dari penangkapan itu. Sebelum ditangkap, pada tahun 1953-1959, Andang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Pondoknongko, Rogojampi. Setelah peristiwa penangkapan, ia dipecat dengan tidak hormat sehingga tidak mendapat tunjangan atau gaji sepeser pun. Akhirnya tahun 1985 dia mendapat pengampunan dari pemerintah, sehingga walaupun dipecat masih mendapat hak gaji. Hingga sekarang, Andang dan istrinya hidup dari uang pensiunan tersebut, selain dari royalti mencipta lagu.

Saat ini, Andang juga aktif dalam organisasi Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB) dan menjadi redaktur majalah budaya Seblang. Dalam kesederhanaan yang dijalani, dia mengaku tetap merasa ikhlas dan selalu mengucap alhamdullilah serta puas karena karyanya masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Ditanya pendapatnya mengenai lagu-lagu yang banyak beredar di tanah air masa kini, Andang menjawab, “Lagu-lagu yang muncul sekarang ini saya rasa mengalami peningkatan karena diimbangi juga dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Tapi, saya pikir lagu-lagu klasik yang dulu pun tak kalah mutu baik melodi maupun liriknya dengan yang sekarang.”

Dua jam tak terasa kami telah berbincang dan bertukar pikiran. Sebelum kami pulang, saya menanyakan adakah pesan bagi generasi muda saat ini supaya dapat menghasilkan sesuatu yang lebih berguna dan bermanfaat. Dia menjawab dengan tegas, “Kepada yang muda hanya satu pesan saya: gumuk iku paculono, tandurono kacang lanjaran5! Artinya, segala sesuatu telah tersedia dan lebih canggih sekarang ini, sebagai generasi muda maka kalian harus berpikir jernih dan lebih bekerja keras supaya hasil yang diperoleh pun lebih maksimal.”

Saya dan Putri pun berpamitan, tak lupa kami bersalaman. Di tengah perjalanan, kami bersenandung lagu Umbul-Umbul Blambangan dengan penuh semangat, walaupun saat itu gerimis mulai membasahi bumi Blambangan…
Mbul Umbul Blambangan…Mbul Umbul Blambangan…Blambangan….Tanah Jawa pucuk wetan. Sing arep bosen isun nyebut-nyebut araniro Blambangan…Blambangan6




1 Yang dibawa di atas kepala adalah tempat kinangan sirih.
2 Sama-sama melihat
3 pundak terlihat lelah dan tidak tegap di jalan-jalan, barang bawaan para lelaki tersangkut jala di Kedungliwung (nama tempat di Banyuwangi), jalanya dari sutra dan rupawan.
4 Orang-orang, ayo galilah bukit itu, tanamilah kacang panjang, satu ikat dapat seorang gadis.
5 Galilah bukit itu, tanamilah kacang panjang.
6 Bendera Blambangan.....Bendera Blambangan......Blambangan..... terletak di Pulau Jawa paling timur. Tak akan bosan aku menyerukan namamu, Blambangan..

Baca Selengkapnya..

Tuesday, January 29, 2008

Oase di Tengah Padang Keputusasaan

“Aku anak Indonesia......
…….Aku bangga menjadi anak Indonesia.....”

Jauh dalam keterpurukan dan masa depan yang serba suram tak pasti, di tengah-tengah sekumpulan manusia dengan tatapan kosong hilang harapan dan semangat hidup, ternyata masih terpancar secercah harapan yang membangkitkan optimisme untuk merenda hari esok.

Paling tidak untuk sejenak, ketika kita mendengar potongan lirik lagu yang dinyanyikan dengan penuh canda tawa oleh anak-anak korban luapan lumpur panas Sidoarjo di SDN Ketapang I dalam peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli yang lalu. Lagu dan canda tawa itu ibarat sebuah tanda yang berseru bagi kita, ”Heii….di sini masih ada gairah hidup!”. Itulah yang saya lihat dan rasakan ketika mengikuti acara yang didalangi oleh Departemen Sosial dan sebuah LSM dengan tajuk “Aku Anak Pintar dan Sehat” itu. Mereka ibarat oase di tengah padang keputusasaan dan barangkali juga amarah yang setiap saat bisa meledak.

Acara ini adalah kali pertama Hari Anak Nasional diperingati di Sidoarjo setelah bencana lumpur melanda kawasan itu setahun lalu. Pagi itu telah berkumpul sekitar 600 siswa, gabungan dari SDN Ketapang I, SDN Ketapang II, SDN Kedungbendo I, dan SDN Kedungbendo III. Sejak bencana tersebut terjadi, seluruh siswa SDN Kedungbendo I dan III terpaksa melanjutkan aktivitas belajar di SDN Ketapang karena sekolahnya telah terendam lumpur.

Devintia, seorang siswa kelas 6 SDN Kedungbendo I mengaku sangat senang bisa merayakan Hari Anak Nasional di tengah musibah lumpur panas yang menimpa keluarganya. “Aku seneng masih bisa sekolah, Mbak. Ibu dan bapak sudah tidak punya pekerjaan. Mudah-mudahan pemerintah segera berbuat sesuatu untuk kami.”, tambahnya.

Adakah orang yang masih mau mendengar harapan serta turut merasakan derita anak-anak ini? Sementara sebuah ancaman lain tengah mengintai di belakang mereka. Seorang pekerja sosial bercerita bahwa perilaku anak-anak korban luapan lumpur panas Sidoarjo mulai tidak terkendali. Mereka mulai malas belajar, bertindak kasar dan membentak-bentak bila ada yang bertanya. Hal ini senada dengan penelitian dari Universitas Airlangga yang menemukan bahwa sebagian besar korban luapan lumpur panas Sidoarjo sedang menderita secara psikologis.

Saya tersentak ketika seorang anak perempuan bertampang kumal menarik-narik jaketku dan berkata, ”Mbak, rumahnya mana? Rumahnya gak kerendem lumpur juga kan? Aku udah gak punya rumah lagi, Mbak.” Ooh…seketika itu juga saya berlutut dan membelai-belai rambutnya dan berujar, ”Adik manis, sabar ya, jangan sedih, Tuhan pasti bantu kita.”

Lalu, saya memangkunya. “Mbak, Ibu bilang Yesus pasti bantu kita. Yesus akan buatin rumah yang lebih indah, kata Ibuku. Bener itu, Mbak?”, tanyanya polos. “Iya, sayang. Yesus pasti akan bantu asal kita percaya dan terus berdoa kepada Tuhan.”, jawab saya. Ia berkata lagi, “Mbak, yuk kita doa bareng!” .Lalu Ia berdoa dengan bersuara. “Ya Tuhan, bantulah ibu bapakku. Tolonglah kami, Bapa. Kami percaya Tuhan akan tolong kami………......”.

Sekilas saya membuka mata, kesungguhan adik kecil ini terpatri jelas di raut wajahnya. “Amin”, ucapnya mengakhiri doa. Ia tersenyum memandangku. “Makasih ya, Mbak.”, katanya. Saya mengangguk. Ia pun pamit untuk kembali ke teman-temannya.

Kenyataan hidup Devintia dan teman-temannya hanya sedikit contoh dari berjuta potret buram kondisi anak-anak Indonesia yang hak-haknya tak terpenuhi. Tindakan mengabaikan hak anak sungguh bertentangan dengan semangat Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention of the Rights of the Child) yang mengedepankan “…anak hidup dalam lingkungan yang harmonis…”.

Indonesia adalah negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak. Ini berarti Indonesia harus mengupayakan pemenuhan prinsip-prinsip dasar hak anak, yaitu tidak diskriminatif, mengupayakan yang terbaik untuk anak, mengedepankan kelangsungan hidup dan perkembangan anak, dan penghargaan terhadap pendapat anak.

Hingga kini sudah lebih dari 22 undang-undang yang mengatur perlindungan anak misalnya, Undang-Undang (UU) No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak. Selain itu, UUD 1945 Amandemen juga mewajibkan negara memenuhi hak pendidikan anak serta mengalokasikan 20 persen anggaran belanja untuk pendidikan. Namun, kenyataannya masih banyak hak-hak anak yang belum terpenuhi bahkan terkesan diabaikan.

Saya tidak ingin sepenuhnya berbicara tentang sebuah pemerintah yang lalai karena sebenarnya masing-masing kita juga bisa berperan entah sekecil apapun. Tentu pertama-tama bukan soal materi tapi yang terpenting memberikan sebuah semangat dan harapan untuk hidup. Dengan itu kita berharap mudah-mudahan mereka bisa bertahan seraya mencari kreasi baru agar kehidupannya tidak lagi sekedar mengandalkan bantuan orang lain. Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita meneladani kebaikan dan kepedulianNya selama di dunia.

Sekali lagi, tidaklah melulu soal materi. Kita dapat berbagi cerita, mendengar keluhan lalu mendoakannya. Dengan begitu, nyatalah cahaya Kristus di tengah-tengah dunia ini, pun semangat yang ada di dalam hati mereka tak akan pernah padam. Melalui kita—umatNya—nyala cahaya Kristus akan semakin terang. Dan saat itu pula, kita pasti telah menyadari bahwa masih ada oase di tengah padang keputusasaan mereka.

Baca Selengkapnya..

Saturday, September 15, 2007

Jalan-Jalan

Jogja: Unforgetable Moment

6 Sept 2007: Nikmatnya naik Kereta Api kelas Ekonomi
“Ayo, Dek, buruan! Tar kita telat loh!”, ujar Mas Insaf. “Iya…Iya, tunggu.”, sahutku. Kami pun bergegas ke stasiun. Benar saja, 5 menit setelah duduk di dalam gerbong, kereta api mulai berjalan dan mempercepat larinya meninggalkan kota Jember. Aku menghela nafas lega, huuh….. Akhirnya jadi juga kami bepergian berdua. Kami ke Jogja untuk menghadiri wisuda Bang Kastro, sepupu Mas Insaf.

Kami sengaja naik kereta ekonomi Logawa dengan beberapa maksud. Pertama, tentu saja lebih irit. Kedua, kami ingin menikmati perjalanan dengan angkutan transportasi massal yang bisa membuat kami akrab dengan kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia (ciiee…). Ketiga, kami telah berjanji kepada Mama untuk bertemu Mbak Ridha di Stasiun Nganjuk, dan menyampaikan barang titipan Mama.

Di tengah perjalanan, ada seorang ibu yang umurnya 60-an dan anaknya duduk berhadapan dengan kami. Tiba-tiba saja ibu itu berkata padaku,” Itu kakaknya ya? Kok mirip banget?”. “Bukan, bu. Dia ini pacar saya.”, jawabku. “Wah..kata orang kalo mirip gitu jodoh. Semoga itu benar ya?!”, kata ibu itu lagi. Aku tersenyum dan mengamini dalam hati.
Kereta api mampir di Stasiun Nganjuk pukul 14.30. Aku melihatnya. Yaa..kakakku yang tengah hamil 7 bulan beserta suaminya. Aku memberikan barang titipan mama, barter dengan dua bungkus nasi (he..he..he..). Kami sempat bercakap-cakap beberapa menit. Aku senang melihat kakakku sehat-sehat saja. Aah..sebentar lagi aku akan punya ponakan, pikirku.
Kereta meniupkan peluitnya pertanda akan berangkat. Kami pun kembali ke tempat duduk dan segera makan. Tentu saja kami sangat lapar karena mulai dari Jember kami belum makan. Setelah makan, apa? Penyakit lama kembali menyerang. Rasa kantuk mulai menyerang. Kami tak sanggup bertahan maka menyerah saja. Maka..tidurlah kami berdua dengan damai dan aman sentosa…..zzzZZzzZZ…
Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja pukul 17.00 tepat. Kami menunggu jemputan Bang Kastro, sepupu Mas Insaf yang akan wisuda. Tingginya sekitar 175 cm dan lebih berat 20 kilo-an dari Mas Insaf.

Petualangan pun dimulai…Here we go!
Kami rehat sebentar di Kos Bang Kastro. Setelah itu, kami pergi ke rumah Mbak Pipit (pacar Bang Kastro) supaya aku bisa mandi, dan beristirahat disana. Kami berkenalan dan ngobrol dengan orangtua Mbak Pipit. Orangtua Mbak Pipit adalah orang Jogja tulen, maka tidak heran bila perangai mereka sangat halus.
Pukul 20.00 kami menjemput Bibi dan Kila (orangtua Bang Kastro) dan mengantarkan ke kos Bang Kastro. Lalu aku kembali ke rumah Mbak Pipit dan beristirahat.

7 September 2007: Sesaknya Pasar Beringharjo
Keesokan harinya, Bibi ingin ditemani berbelanja di Pasar Beringharjo. Maka, kami (Bibi, Kila, Mas Insaf,aku) naik taksi ke Pasar Beringharjo. Sesampai disana, Bibi membeli beberapa pasang baju untuk anak-anak dan ponakannya yang ada di Medan. Bibi mengaku merasa senang berbelanja disana karena harganya sangat murah. “Ayo Nakku, kam pilihkan yang mana yang bagus untuk Bibi!”, pinta Bibi suatu waktu. “Iya Bi, rasanya campuran warna merah dan coklat ini cantik, cocok untuk Bibi.”, kataku. Maka Bibi pun membelinya. Tak lupa aku membeli baju untuk mama dan bapak di Rumah Banyuwangi.
Setelah puas berbelanja, kami makan bakso di pinggiran jalan Malioboro. Setelah itu, kami pulang ke Kos Bang Kastro. Bibi dan Kila pun beristirahat.

Pintarnya Jogja
Setelah itu, aku dan Mas Insaf berjalan-jalan ke Pameran buku di JEC. Nampaknya pameran ini serupa dengan pameran yang pernah ada di Jember, hanya sedikit lebih lengkap disini. Di JEC, kami hanya membeli buku karya Umberto Eco. Lalu, kami ke Social Agency, karena disana lebih lengkap dan harga diskon. Kami membeli beberapa buku disana. Saat itulah aku menyadari betapa kurangnya fasilitas yang dimiliki Jember, terutama akses mahasiswa terhadap buku. Kapan dan bagaimana mahasiswa Jember bisa lebih update akan perkembangan yang terjadi bila buku yang dibutuhkan jauh dari jangkauan?

8 September 2007: Hari yang ditunggu-tunggu..
Inilah salah satu alasan kami ke Jogja. Pukul 12.00 setelah wisuda usai, kami memberi ucapan selamat ke Bang Kastro lalu berfoto bersama. Bang Kastro terlihat bahagia. Tentu saja, setelah 6 tahun duduk di bangku kuliah STT Nas, hari ini adalah yang paling ditunggu-tunggu. Gelar Sarjana Teknik telah diraihnya. Aku membayangkan Mas Insaf yang memakai toga itu, pastilah aku orang yang paling berbahagia di dunia ini.
Untuk merayakan ini semua, kami (Bibi, Kila, Mas Insaf, Bang Kastro, Bang Roy, Bang Sutra, Oza, Mbak Pipit, aku) makan siang di depot ayam goreng Suharti. Ehhm….yummy.,..enak! 3 ekor ayam kampong utuh, 2 tumis kangkung, 2 bakul nasi putih, minuman segar segera tersedia. Tak perlu menunggu komando, kami segera melahap habis makanan itu semua. “nah..Tyas jangan kaget ya, orang Karo emang begini ini, makannya banyak.”, ujar Abang Sutra. Aku hanya tersenyum. Waah…sama dong, pikirku. Setelah itu, kami beristirahat di kos Bang Kastro.


9 September 2007: Borobudur in love
Keesokan harinya, pukul 09.30 kami berwisata ke Candi Borobudur. Kami naik mobil Mbak Pipit. Mobil tua itu berisi 8 orang. Sopir, Bang Kastro dan Bang Roy di depan, Mbak Pipit dan Bibi di tengah, serta Kila, Mas Insaf dan aku di belakang. Di tengah perjalanan, kami membeli salak pondoh. Sebelum tiba di Candi Borobudur, kami melewati Candi Mendut. Kami sampai di Candi Borobudur pukul 11.00. Acara pertama: makan.
Setelah itu kami membeli tiket masuk dan menyewa 3 buah payung karena teriknya matahari benar-benar serasa di atas ubun-ubun. Setelah kami masuk ke lokasi, kami harus berjalan kurang lebih sejauh 1,5 km. Waw… keren banget relief-relief ini, pikirku. Dan letak candi ini yang begitu stategis diapit gunung dan lembah membuat candi ini terlihat semakin menjulang. Tak heran bila ini disebut keajaiban dunia. Benar-benar keajaiban.
Aku benar-benar menikmati wisata ini karena ini adalah kali pertama aku ke sini. Dan ternyata ini juga pertama kalinya Mas Insaf ke sini, kami pun memanfaatkan moment ini untuk berfoto-foto sebanyak dan seunik mungkin. Kapan lagi, pikirku.
Setelah puas berkeliling, kami pun pulang. Sebenarnya, kami berencana untuk melanjutkan wisata ke Parangtritis, tapi karena Bibi sudah cape dan mengeluh kakinya sakit, maka kami pun pulang ke kos Bang Kastro. Ternyata sewaktu perjalanan, kami semua tertidur saking capenya. Kasian sopirnya ga bisa tidur….(hehe..)

10 September 2007: Bersantai bersama Keluarga
Ini adalah hari terakhir kami bisa berkumpul, karena esok pagi Bibi, Kila dan Bang Roy akan kembali ke Medan. Sore pukul 15.00, aku dan Mas Insaf ingin ke Perpustakaan UGM, cari inspirasi skripsiku, tapi ternyata perpustakaannya udah tutup. Kami langsung meluncur ke Shoping, Karena matahari sudah mulai malas bersinar, kami pun pulang. Sebelum pulang, kami teringat Bibi ingin dibelikan bakso. Singgahlah kami di bakso Pak Narto, dan kami masing-masing melahap semangkuk bakso. Ternyata Mas Insaf gak bo’ong, baksonya benar-benar enak.
Kami sampai di kos pukul 18.00 dengan membawa 3 bungkus bakso. Bibi dan Kila pun segera memakan baksonya, “Ehhm….enak ya, baksonya, Nakku!”, ujar Bibi sambil mengunyah pentol bakso. Aku pun mengangguk.

Bukit Pathuk: Kerlap-kerlip Lampu Jogja
Sebelum pulang ke rumah Mbak Pipit, aku merengek ingin ke Bukit Pathuk karena menurut Mbak Pipit dan Ibunya, tempat itu indah sekali. Pukul 20.30 kami berempat (Bang Kastro, Mbak Pipit, Mas Insaf, aku) pergi ke dataran tinggi tersebut. Kira-kira 30 menit, kami sampai di sebuah kedai minum dimana bisa melihat kerlap-kerlip lampu Jogja dari kejauhan. Sungguh indah dan dinginnya luar biasa. Bahkan segelas kopi susu panas pun tak mampu mengusir dingin ini.
Setelah kopi susu kami teguk hingga ke dasarnya, kami pun pulang. Malam itu, aku dan Mbak Pipit sengaja berlama-lama ngobrol hingga pukul 00.00, karena ini adalah malam terakhir aku bermalam di kamarnya.

11 September 2007: Bibi kembali ke Medan
Aku dan Mbak Pipit anter Bibi dan Kila hingga di Bandara. Kami sempat bersalam-salaman dan cipika-cipiki. Semoga kita lekas bertemu lagi, Bibi. Semoga kita benar-benar bisa menjadi sebuah keluarga, suatu hari kelak. Amin.
Siangnya, aku dan Mas Insaf ke Perpustakaan FISIP UGM untuk cari-cari literatur untuk menunjang skripsi Mas Insaf dan aku. Alhasil, dengan uang yang nipis, kami hanya bisa fotokopi 5 buku, itu pun dengan format panjang. Kari sekaken a’ee….!!
Setelah itu, kami makan siang, kembali ke kos Bang Kastro, packing, dan kota selanjutnya, Semarang, siap menanti kami. Mbak Pipit dan Bang Kastro mengantarkan kami hingga terminal Jombor. Kami naik bis Nusantara. Yooo…….Semarang, kami dataanggg!!!!

******

Sore itu langit mulai gelap, matahari sudah kembali ke peraduannya di ufuk Barat ketika kami tiba di terminal Banyumanik Semarang. Aku melirik jam tanganku, tanggal 11 pukul 17.30.WIB. Ini kali ketiga aku menginjakkan kaki di Ibu Kota Jawa Tengah ini. Pertama, ketika menghadiri pesta pernikahan abangku yang menyunting gadis asal kota ini tahun 2002 lalu. Kedua, tahun 2006 untuk menemui abangku yang menginap di rumah mertuanya. Dia baru saja pulang dari Amerika Serikat untuk menyelesaikan program master di University of Utah. Waktu itu, Aku, dia, istrinya (mbak) dan anak mereka Oza bermaksud pulang bersama-sama ke Kuta Kepar, desa terpencil di Sumatera bagian Utara. Di desa itulah kami lahir dan menghabiskan masa kecil yang bahagia. Kini aku kembali datang ke kota ini. Bedanya, aku tak lagi datang sendiri tapi bersama Tyas, gadis yang jadi pacarku selama setahun belakangan ini.
Meskipun sudah kali ketiga, aku masih saja tak ingat alamat bahkan nomor telepon rumah orangtua kakak iparku yang hendak kami tuju. Aku mengingat-ingat dan mencoba melihat di HP kalau-kalau alamat dan nomor telepon itu aku simpan. Namun, sial, HP-ku mati karena kehabisan daya. Tak lama kemudian HP Tyas berdering, dari abang,Tyas memintaku untuk mengangkatnya.
“Kalian sudah sampai?”
“sudah baru aja”
“langsung saja naik taksi, bilang ke Sampangan lewat Papandayan ke Perumahan Bukit Unggul nanti berhenti aja di Jasmin Catering. Dari situ jalan ke rumah, ingat kan kamu sudah pernah ke sini to?”
“Iya”.
Aku lalu menyampaikan alamat itu ke Tyas agar membantuku untuk mengingat-ingatnya. Sekitar limabelas menit kemudian kami sudah tiba di alamat yang dituju, abang menyambut di depan pintu dengan senyum.
“Eh, kalian nggak nyasar ternyata”, katanya. Lalu memegang pundak Tyas dan berkata “kok mau aja ikut bersusah-susah”. Tyas hanya tersenyum dan kami pun duduk di ruang tamu. Barangkali yang ia maksud dengan bersusah-susah adalah soal tempat tidur. Rumah itu tak cukup besar untuk menampung kami berdua karena tepat tidur hanya empat. Padahal penghuninya berjumlah delapan orang dewasa dan dua anak kecil, Oza dan adiknya yang baru lahir dua minggu yang lalu. Sebenarnya jumlah kamar itu sudah pas jika tanpa kami berdua dan abang serta keluarganya.
Tanpa ngobrol lebih banyak kami segera mandi dan dan makan.

*****

Waktu masih menunjukkan pukul 06.30 wib, aku sudah terjaga dibangunkan abang. Tadi malam aku tidur di ruang tamu di atas lantai dengan menggelar karpet. Toni, adik bungsu kakak iparku tidur di atas sofa di sebelahku. Tanpa mencucui muka aku langsung ke teras dan membaca Koran. Tyas datang dan menyuguhkan teh lalu mengajakku keluar jalan-jalan sekalian membeli oleh-oleh. Pukul 08.00 wib, abang membeli Pecel dan kami sarapan. Tyas dan mbak sudah lebih dulu sarapan bubur. Pecelnya puedees luar biasa tapi karena enak, aku nggak peduli. Jam sembilan pas kami berangkat jalan-jalan dengan menggunakan angkutan umum. Tempat pertama yang jadi tujuan adalah kota lama Semarang yang sudah sering kami saksikan beritanya di televisi.
Rasanya kondisi bangunan tua di tempat tersebut tak jauh berbeda dengan bangunan tua di kota lainnya, sama-sama tak terurus. Kondisi sungai di sekitarnya tersebut juga sami mawon dengan keadaan sungai di kota-kota besar di seluruh Indonesia, tercemar dan mengeluarkan aroma yang tak sedap. Namun, dibandingkan dengan kota tua di Jakarta, Surabaya atau Jogjakarta, keadaan kota tua di Semarang relatif lebih baik dari yang terburuk. Di kota-kota lain bangunan tua banyak yang sudah (di)runtuh(kan) dan diganti dengan bangunan baru yang lebih megah sedangkan di sini bangunan itu masih ada meskipun sebagian besar dibiarkan saja tak terurus. Barangkali karena pertimbangan itu juga, Mira Lesmana dan Riri Riza memilih Semarang sebagai lokasi Syuting film Soe Hok Gie beberapa waktu silam.

Setelah menyusuri kota lama, kami melanjutkan perjalanan ke Simpang Lima. Karena sudah sama-sama lapar kami sepakat untuk mencari warung untuk makan. Dalam perjalanan perutku sempat mules-mules, nampaknya gara-gara kebanyakan sambal pecel tadi pagi. Rasa sakit itu memaksa kami untuk singgah ke mall terdekat, Ciputra Mall, aku bergegas ke toilet. Setelah makan, perutku kembali bergejolak dan lagi-lagi harus masuk ke mall terdekat, Ramayana. Setelah dari toilet kami sempat berjalan-jalan dan makan es krim di Mc Donald, membeli roti lalu keluar dengan maksud melanjutkan jalan-jalan. Tujuan berikutnya adalah objek wisata yang juga sangat terkenal di Semarang yaitu bangunan tua yang bernama Lawang Sewu. Aku lupa kapan tepatnya bangunan ini dibangun. Pemandu yang mengantar kami beserta serombongan pelajar dari Ungaran sempat bercerita, namun aku nggak terlalu konsen sama penjelasannya. Tempat ini dulunya adalah stasiun kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, lalu sempat menjadi markas Kodam Diponegoro, kantor Dinas Perhubungan dan Kosong sampai sekarang. Konon, kata si penjaga gedung tersebut, tempat ini bukan tempat sembarangan, angker sehingga sering dijadikan tempat uji nyali. Ada salah satu ruangan kecil yang pada masa Jaman pemerintahan Belanda merupakan ruang tendon air, oleh Jepang dijadikan tempat latihan memenggal kepala manusia. Ada juga ruang penyiksaan tahanan di lantai atas. Tak heran, tempat ini sering dijadikan tempat mencari wangsit oleh orang-orang yang barangkali percaya pada “penunggu” gedung ini. Kami masih bisa melihat sisa-sisa lilin persembahan para peziarah itu.

Tak jauh dari Lawang Sewu ada pusat oleh-oleh. Kami berjalan kaki menuju tempat itu. Lagi-lagi di jalan perutku mules dan terpaksa mencari tempat terdekat yaitu Rumah Sakit bersalin untuk numpang toilet. Aku benar-benar merasa dikerjai. Langit kembali gelap, kami bergegas pulang. Sesampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib. Saatnya mandi, makan, dan pulang ke Jember.

Baca Selengkapnya..